Selasa, 17 November 2015

Alhikam 44 (Buku Kedua)

“Orang yang tidak mengetahui nilai nikmat tatkala mendatanginya akan sadar tatkala sudah lepas dari dirinya.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Ini adalah penegasan dari hikmah sebelumnya. Ibnu Atha’illah berkata, “Turunnya kegelapan adalah sebagai pertanda dan pengenal besarnya kenikmatan karena segala sesuatu akan semakin jelas dengan adanya kebalikannya.” Saat ada lawan atau tandingannya, akan tampakklah keutamaan sebuah benda. Nikmat pandangan akan diketahui manakala seorang diuji dengan kebutaan. Kadar air dan nilainya akan diketahui seorang manakala ia diuji dengan rasa haus yang berat di tengah padang pasir tandus. Nilai air tidak akan diketahui oleh orang yang ada di pinggir danau atau sungai yang mengalir. Nikmat itu baru terasa oleh seseorang tatkala nikmat itu sudah hilang darinya.


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Alhikam 43 (Buku Kedua)

“Bisa jadi, kegelapan datang menyergapmu untuk mengingatkan anugerah Allah atas dirimu.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Bisa jadi, kegelapan atau dosa dan maksiat serta kelalaian datang kepadamu untuk mengenalkan anugerah Allah kepadamu atau mengingatkanmu tentang pemberian Allah kepadamu berupa cahaya dan kedekatan-Nya. Dengan demikian, kau akan memuji-Nya atas karunia dan nikmat itu dan kau kembali ke kondisimu sediakala. Kau mengetahui bahwa itu  adalah nikmat yang besar sehingga puji dan syukurmu pun akan semakin besar.
Terkadang, petaka bisa jadi nikmat. Bisa jadi, penyebab turunnya petaka itu adalah rasa banggamu akan ketaatanmu sehingga Allah swt. mengingatkan agar kau mengetahui siapa dirimu dan tidak melampaui batas kadarmu. Petaka itu juga mengingatkanmu agar kau tidak sombong dan tidak berbangga diri di hadapan semua manusia. Inilah yang dimaksud dengan petaka bisa menjadi nikmat.
Terkadang, petaka datang sebagai siksa dan ujian bagimu. Tandanya adalah bahwa setiap kali kau keluar dari satu maksiat, kau akan terjerumus ke  dalam maksiat lainnya. Demikian seterusnya dan kau tidak dibimbing Allah untuk bertobat dan menyadari kekurangan diri sendiri.


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Alhikam 42 (Buku Kedua)

“Siapa yang merasa tidak mungkin diselamatkan Allah dari syahwatnya dan dikeluarkan-Nya dari kelalaiannya, berarti menganggap lemah kuasa Ilahi, padahal, ‘Allah MahaKuasa atas segala sesuatu.’(QS.al-Kahfi[18]: 45)”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Orang yang merasa bahwa Allah mustahil akan menyelamatkannya dari syahwat dan kelalaian yang telah menguasainya berarti ia menganggap lemah kuasa Ilahi, padahal Allah MahaKuasa atas segala sesuatu. Allah swt. mampu melakukan segala sesuatu, termasuk menyelamatkan manusia dari keburukan syahwat dan kelalaian. Oleh karena itu, seorang hamba harus menuju pintu Tuhannya dengan penuh kerendahan dan kehinaan. Semoga saja Dia akan memudahkan yang dirasa sulit baginya dan menampakkan yang dianggap mustahil.
Makna ini didukung oleh berbagai kisah yang diriwayatkan  dari beberapa orang saleh yang awalnya berkubang dalam kelalaian dan kesalahan. Allah swt. mendekati mereka dengan kelembutan-Nya, memperbaiki amal mereka, dan menjernihkan ahwal mereka, seperti yang dialami Fudhail bin Iyyadh, Abdullah bin Mubarak, dan Abi ‘Iqqal bin ‘Ulwan.  


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Selasa, 03 November 2015

Alhikam 41 (Buku Kedua)

“Ketika Dia mewajibkanmu untuk berkhidmat kepada-Nya, sebenarnya Dia mewajibkanmu masuk ke dalam surga-Nya.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Allah swt. mewajibkanmu untuk berkhidmat kepada-Nya secara lahir. Sebenarnya Dia tidak mewajibkanmu, kecuali untuk masuk ke dalam surga-Nya. Allah swt. tidak membutuhkan makhluk. Ketaatan mereka kepada-Nya tidak berguna bagi-Nya dan maksiat mereka tidak pula merugikan-Nya.
Allah swt. mewajibkan amal atas para hamba, karena manfaatnya akan kembali kepada mereka sendiri yaitu agar mereka masuk surga, bukan agar mereka mendapatkan kemuliaan dengan amal itu.
Ini adalah penegasan dari hikmah sebelumnya. Allah swt. mewajibkan para hamba untuk taat kepada-Nya karena kurangnya semangat mereka untuk beribadah. Untuk itu, Allah swt. harus menyeret mereka dengan rantai kewajiban. Dia melakukan hal ini tak lain untuk manfaat yang akan kembali kepada mereka sendiri, yaitu masuk surga-Nya.
Dalilnya adalah sabda Rasulullah saw. yang berbunyi, “Allah swt. kagum dengan kaum-kaum yang digiring ke surga dengan rantai.” Hadis ini dipahami bahwa mereka yang dipaksa dan diwajibkan untuk taat tak lain agar mereka masuk surga. Allah swt. tidak mewajibkan mereka, kecuali agar mereka masuk surga.


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Alhikam 40 (Buku Kedua)

“Allah swt. mengetahui kurangnya semangat hamba dalam beribadah. Oleh karena itu, Dia menggiring mereka untuk menunaikan sejumlah ketaatan dengan rantai kewajiban. Dan, Tuhan kagum melihat kaum yang digiring ke surga dengan rantai tersebut.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Allah swt mengetahui kurangnya semangat para hamba untuk beribadah, bermuamalah dengan-Nya, mendatangi-Nya dengan ketaatan, dan melaksanakan hak-hak rububiyah-Nya dengan penuh sukarela. Oleh sebab itu, Allah swt. mewajibkan mereka melaksanakan sejumlah ketaatan dengan paksa dan mengancam mereka dengan neraka jika tidak melaksanakannya. Allah  swt. menyeret mereka agar melakukan ketaatan kepada-Nya dengan rantai kewajiban.
Kewajiban diumpamakan rantai yang dilingkarkan di leher para tawanan untuk menyeret mereka dengan paksa. Dengan rantai kewajiban itu, Allah swt. memaksa para hamba melaksanakan ketaatan yang akan membuahkan kebahagiaan bagi mereka di masa depan walaupun di masa sekarang terasa berat. Allah swt melakukan ini terhadap hamba-hamba-Nya, sebagaimana seorang bapak melakukannya terhadap anaknya. Tidakkah kau lihat bagaiman seorang bapak mendidik dan memaksa anaknya untuk mengikuti sifat-sifat  dan tabiatnya walaupun terasa berat bagi sang anak. Meski terpaksa, anak itupun akan melakukannya. Hal itu tak lain agar sang anak mendapatkan manfaat di masa depan yang tidak diketahuinya di masa sekarang. Kelak saat ia beranjak dewasa dan akalnya telah matang, ia akan merasakan manfaat itu dan menyadari kebenaran perlakuan sang bapak.
Tuhan kagum kepada suatu kaum yang digiring ke surga dengan rantai kewajiban, sebagaiman yang dilakukan kaum muslim terhadap para tawanan kafir saat mereka diharapkan masuk Islam. Kaum itu digiring ke surga dengan rantai di leher mereka. Ini adalah makna hadis Rasulullah tentang tawanan perang badar yang lafalnya, “Allah kagum dengan kaum-kaum yang digiring ke surga dengan rantai.
Kagum bermakna menganggap besar perkara yang kecil. Kagum adalah sifat yang mustahil bagi Allah swt. Tentang lafal ini, ada dua pendapat. Salah satunya berpendapat bahwa Allah swt. memiliki kekaguman yang tidak diketahui hakikatnya dan Dia terbebas dari maksud lafal “kagum” yang kita kenal.
Mazhab ulama Khalaf menakwilkan hal itu berbeda dengan berkata, “Makna ‘kagum’ atau ‘takjub’ yang dinisbatkan kepada Allah swt. adalah, Allah swt. menampakkan keajaiban sebuah perkara kepada makhluk-Nya karen Allah swt. Maha Mencipta segala sesuatu.” Allah swt. kagum kepada suatu kaum yang diseret ke surga tak lain karena saat semua orang ingin segera menyongsong surga dan keindahannya, mereka malah menolak untuk masuk ke sana sampai harus diseret, seakan mereka diseret ke dalam sesuatu yang tidak mereka sukai.
Ada pendapat yang mengatakan bahwa yang dimaksud “kagum” di sini adalah konsekuensi kagum,  yaitu berbuat baik kepada yang dikagumi. Misalnya, jika kau katakana, “Betapa Zaid seorang yang alim,” konsekuensinya kau tentu ingin berbuat baik kepada Zaid dan menghormatinya.
Jadi, maknanya Allah swt. ingin berbuat baik kepada kaum itu dengan mengundang mereka masuk surga dan menyeret mereka dengan paksa. Ini berlaku bagi orang-orang awam. Orang awam harus diseret dengan rantai kewajiban agar mereka melakukan ketaatan.
Bagi orang-orang khusus, mereka tidak membutuhkan paksaan, ancaman, atau peringatan karena Allah swt. telah melapangkan dada mereka, menerangi mata hati mereka, dan mengukuhkan keimanan di dalam hati mereka sehingga mereka lebih mencintai ketaatan dan membenci maksiat. Maka dari itu, mereka tidak membutuhkan sedikitpun paksaan karena mereka bebas total dari kebendaan dan kemakhlukan yang menguasai hati. Mereka selalu taat dengan penuh suka rela, bahkan jika mereka dipaksa untuk meninggalkan ketaatan itu, mereka tidak akan tahan dan tidak akan bersabar. Andai ada taklif (pembebanan hukum) bagi mereka, fungsinya saat itu tak lain untuk menunjukkan kecintaan mereka kepada yang memberi beban hukum. Sebagaimana para raja yang memerintah menteri-menterinya agar melayaninya, tak lain untuk menambah kedekatan dan penghormatan kepada rajanya.


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Alhikam 39 (Buku Kedua)

“Allah membatasi ketaatan dengan ketentuan waktu agar sikap suka menangguhkan tidak merintangimu untuk mengerjakannya. Namun, Allah memperluas waktunya agar tetap ada peluang bagimu untuk memilih.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Allah telah membatasi ketaatan yang wajib atasmu dengan waktu-waktu tertentu, shalat lima waktu misalnya. Allah swt. tidak membebaskan waktu-waktunya agar sikap “suka menangguhkan” tidak menghalangimu untuk mengerjakannya. Jika Allah swt. membebaskan waktunya dan tidak menentukannya, sikap “suka menunda” itu akan mendorongmu untuk meninggalkannya. Kau akan malas dan berkata, “Kalau aku sudah selesai dari keperluanku, aku akan shalat karena waktunya amat luas.” Bahkan mungkin, sehari semalam terlewatkan begitu saja tanpa kau melakukan shalat itu.
Lain halnya jika waktunya dibatasi, hal itu akan mendorongmu untuk segera mengerjakannya dan selalu membuatmu waspada sehingga tidak melewatkannya.
Namun demikian, Allah swt. tetap memperluas waktunya agar kau mempunyai peluang untuk memilih. Kau bisa memilih mengerjakannya di awal waktu, di pertengahan, atau di akhirnya dan kau tidak lagi menjadi orang yang menyia-nyiakan waktu shalat meski melaksanakannya di akhir waktu. Selain itu, kau bisa melaksanakan shalat dengan sempurna, yaitu saat hatimu sejalan dengan anggota tubuh lainnya. Jika waktu shalat itu luas, kau bisa meninggalkan kesibukan dan halanganmu sehingga ketika itu kau bisa mengonsentrasikan pikiran untuk khusyuk dalam beribadah dan menjaga adab di hadapan Allah swt.


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Alhikam 38 (Buku Kedua)

“Di antara tanda mengikuti hawa nafsu adalah sigap melakukan amalan sunah, namun malas menunaikan amalan wajib.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Di antara tanda kau mengikuti hawa nafsu adalah ketika kau lebih semangat melakukan ibadah sunah, tetapi malas dan lalai melaksanakan ibadah wajib. Demikianlah, kebatilan memang terasa ringan dilakukan, sedangkan kebenaran akan terasa berat. Wajar saja bila sebagian besar manusia menganggap ibadah wajib sebagai hal yang biasa-biasa saja. Toh, setiap orang pasti sama-sama melakukannya. Jadi, melakukan ibadah wajib bukan hal yang istimewa. Berbeda halnya dengan ibadah sunah. Ibadah sunah dapat membuat seseorang terlihat istimewa, terhormat, dan memiliki kedudukan tersendiri di hati manusia.
Orang yang beranggapan seperti di atas terlihat begitu semangat melaksanakan ibadah sunah, seperti puasa sunah, salat malam, dan pergi haji setiap tahun. Ia tidak menyadari dan berusaha melaksanakan ibadah-ibadah wajin yang kurang sempurna atau belum ia lakukan. Hal ini tak lain karena ia tidak suka melatih jiwa yang telah menipunya dan enggan berjuang melawan hawa nafsu yang telah menguasai dan mengukungnya.


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)