Selasa, 17 November 2015

Alhikam 51 (Buku Kedua)

“Kosongkan qalbumu dari segala sesuatu selain Allah, niscaya Dia akan mengisinya dengan sejumlah makrifat dan rahasia.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Kosongkan hatimu dari kemakhlukan atau dari sikap bergantung kepada selain Tuhanmu. Hapuslah baying-bayang kebendaan dari hatimu, misalnya dengan tidak menuju kepada selain Tuhanmu sehingga kau tidak lagi merindukan apa pun, kecuali Dia dan tidak bergantung kecuali kepada-Nya. Jika demikian, niscaya Allah swt. akan mengisi hatimu dengan makrifat dan rahasia Ilahi.
Allah swt. berfirman, “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS.al-Ankabut[29]: 69)
Telah dijelaskan sebelumnya bahwa hati tidak akan bersinar selama bayangan makhluk dan alam semesta masih terpampang di cerminnya. Oleh karena itu, kosongkan hatimu dari bayang-bayang makhluk dan kebendaan agar ia tetap bersih sehingga cahaya yang berupa makrifat dan rahasia Ilahi akan hinggap dengan mudah di sana.


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Alhikam 50 (Buku Kedua)

“Adakalanya cahaya mendatangimu, namun qalbumu dipenuhi gambaran makhluk sehingga cahaya-cahaya itu kembali ke tempat semula.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Adakalanya cahaya atau ilmu dan makrifat Ilahi datang kepadamu, tetapi karena qalbumu penuh dengan gambaran kemakhlukan dan kebendaan, berupa harta, jabatan, anak, dsb, akhirnya cahaya itu pun pergi lagi dari qalbu. Cahaya itu suci dan jernih. Ia tidak akan menempati qalbu yang kotor dengan kebendaan.


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Alhikam 49 (Buku Kedua)

“Ada cahaya yang hanya diperkenankan sampai ke lahiriyah qalbu dan ada cahaya yang diperkenankan untuk masuk ke dalamnya.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Cahaya makrifat yang diperbolehkan masuk ke dalam hati terbagi ke dalam dua kategori. Ada cahaya yang diperkenankan sampai ke lahir qalbu saja dan ada cahaya yang diperkenankan masuk sampai ke lubuknya. Cahaya yang hanya sampai ke lahir qalbu mendorong qalbu untuk melihat Tuhannya, dunia, dan akhiratnya. Oleh sebab itu, terkadang ia bersama Tuhannya, terkadang mencintai akhiratnya dan sesekali mencintai dunianya. Akan tetapi, cahaya yang masuk ke dalam lubuk hati akan membuat hati itu tertutup dari segala sesuatu, kecuali wujud Allah swt. Dengan cahaya itu, hati tidak akan mencintai selain-Nya dan tidak akan menyembah kecuali kepada-Nya.
Seorang ‘arif berkata, “Jika iman hanya ada di bagian luar qalbu, hamba akan mencintai dunia dan akhiratnya. Ia akan sesekali bersama Tuhannya dan sesekali bersama dirinya sendiri. Akan tetapi, jika iman masuk ke dalam batin qalbunya, hamba akan membenci dunianya dan meninggalkan hawa nafsunya.


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Alhikam 48 (Buku Kedua)

“Sebagaimana Allah tidak menyukai amal yang tak sepenuhnya untuk-Nya, Dia juga tidak menyukai hati yang tidak sepenuhnya untuk-Nya. Amal yang tidak sepenuhnya untuk-Nya tidak Dia terima dan hati yang tak sepenuhnya untuk-Nya tidak Dia pedulikan.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Amal yang tidak sepenuhnya adalah amal yang disertai riya’ dan kepura-puraan. Hati yang tidak sepenuhnya adalah hati yang didalamnya ada kecintaan dan ketergantungan kepada selain Allah swt. Dia tidak menyukai amal dan hati seperti ini. Jika amal dan hati seperti itu, cinta, yang bermakna kecenderungan hati, mustahil diberikan untuk Allah swt.
“Allah swt. tidak menyukai amal yang tak sepenuhnya untuk-Nya” bermakna bahwa Allah swt. tidak akan menerima atau memberi pahala terhadap amal yang tidak sepenuhnya karena di dalamnya tidak ada keikhlasan. Ketidaksukaaan Allah swt. terhadap hati yang seperti itu bermakna bahwa Allah swt. tidak meridhai pemiliknya dan tidak memberi pahala karena di dalamnya tidak ada ketulusan.
Siapa yang memperbaiki amalnya dengan ikhlas dan menghiasi ahwal hatinya dengan ketulusan, ia akan dicintai Allah swt. diberi pahala, dan diridhai-Nya. Jika tidak, Allah swt. pun tidak akan meridhai dan memberinya pahala.


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Alhikam 47 (Buku Kedua)

“Tiada yang bisa mengusir syahwat dari hati, kecuali rasa takut yang menggetarkan atau rasa rindu yang menggelisahkan.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Tiada yang bisa mengusir syahwat dari hati, kecuali rasa takut yang mengganggu dan menguasai relung hati sebagai buah dari penyaksian sifat-sifat Tuhan Yang MahaMulia. Caranya adalah dengan melihat tanda-tanda kebesaran-Nya, mencermati ayat-ayat-Nya yang berisi ancaman, dan mengingat maut, alam kubur, pertanyaan para malaikat, dan hari kiamat.
Bisa juga yang mengusir syahwat dari hati adalah rasa rindu yang menggelisahkan yang masuk ke dalam hati dan berpangkal dari penyaksian sifat-sifat keindahan-Nya. Sumber rasa rindu itu adalah kebiasaan melihat dan mengingat ayat-ayat-Nya yang mengandung janji Allah swt. bagi ahli ketaatan dan para wali-Nya, berupa surga yang tak pernah dilihat mata, tak pernah didengar telinga, dan tak pernah terbetik sedikitpun di hati manusia, serta kebiasaan menghadiri majelis-majelis zikir. Zikir merupakan terapi dan cara yang efektif untuk meraih semua itu. Hal itu dikarenakan, zikir sedikit demi sedikit dapat menenangkan hati dan menumbuhkan rasa takut dan rindu.


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Alhikam 46 (Buku Kedua)

“Kelezatan hawa nafsu yang sudah bersarang di qalbu merupakan penyakit kronis.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Kecendrungan syahwat dan sumber kecintaan terhadap dunia yang bersarang di qalbu merupakan penyakit yang kronis dan sulit diobati. Penyakit ini tak bisa dihilangkan dengan berbagai cara dan obat, termasuk dengan iman, makrifat, dan keyakinan karena sebuah penyakit, jika sudah bersarang di qalbu, tak ada lagi obat yang mampu menawarnya. Akibatnya ia menjadi kronis dan sulit disembuhkan. Tak lagi ada yang mampu mengobatinya, kecuali wirid atau karunia Ilahi.


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Alhikam 45 (Buku Kedua)

“Jangan sampai nikmat yang berlimpah membuatmu lalai dalam menunaikan kewajiban bersyukur karena hal itu dapat merendahkan harga dirimu.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Jangan sampai limpahan nikmat membuatmu terpesona dan lalai dalam menunaikan kewajiban-kewajiban syukurmu kepada Tuhan atas nikmat itu. Misalnya, dengan melihat kelemahan dirimu dalam menunaikan hak-hak itu sehingga kau lupa bersyukur. Sikap lalai itulah yang dapat merendahkan harga dirimu. Allah swt. telah mengangkat harga dirimu dan membuat yang sedikit padamu menjadi banyak. Allah swt. berfirman, “Barang siapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya.” (QS.al-An’am[16]: 160)
Jangan sampai banyaknya nikmat yang diberikan Allah swt. kepadamu membuat dirimu lupa bersyukur kepada-Nya. Jangan sampai pula kau berpandangan bahwa nikmat yang kau rasakan itu datang dengan sendirinya sehingga kau tidak mau bersyukur kepada yang memberinya. Kedua sikap ini adalah sikap yang bodoh dan tercela. Diantara bentuk syukur dengan lisan adalah berzikir mengingat Allah swt, atau membaca wirid setelah shalat lima waktu.


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)