Jumat, 24 April 2015

Al-Hikam 50

“Diantara tanda matinya hati adalah tidak adanya perasaan sedih atas keta’atan yang kaulewatkan dan tidak adanya perasaan menyesal atas kesalahan yang kaulakukan”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

            Tanda hidupnya hati ialah memancarnya cahaya ilahi dari hatimu meskipun kau belum mendapatkan cahaya itu karena tebalnya hijabmu.
            Kesedihanmu atas keta’atan yang terlewatkan dan penyesalanmu atas kesalahan yang telah kaulakukan, atau kebahagiaanmu atas amal-amal baikmu dan kesedihanmu atas amal-amal burukmu membuktikan bahwa kau termasuk ahli iradah (orang yang dikehendaki dan dicintai Allah). Oleh karena itu, giatlah dalam beramal saleh dan jangan malas!


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Al-Hikam 49

“Janganlah kau meninggalkan zikir (mengingat Allah) hanya karena ketidakhadiran hatimu di hadapan Allah saat berzikir! Kelalaianmu dari zikir kepada-Nya lebih buruk daripada kelalaianmu di saat berzikir kepada-Nya. Semoga Allah berkenan mengangkatmu dari zikir yang disertai kelalaian menuju zikir yang disertai kesadaran; dari zikir yang disertai kesadaran menuju zikir yang disertai hadirnya hati; dari zikir yang disertai hadirnya hati menuju zikir yang mengabaikan selain yang diingat (Allah). “Dan yang demikian itu bagi Allah tidaklah sukar.””
(QS. Ibrahim[14]: 20)
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

            Biasakan selalu berzikir karena zikir adalah jalan terdekat menuju Allah dan tanda wujud kekuasaan-Nya. Siapa yang diberi kesempatan berzikir berarti ia telah diberi sebagian kekuasaan-Nya. Oleh karena itu, jangan tinggalkan zikir. Jangan kau tinggalkan zikir lantaran merasa tidak bisa berkonsentrasi saat berzikir akibat terlalu disibukkan dengan bisikan-bisikan setan dan hal-hal duniawi. Kelalaianmu untuk berzikir kepada-Nya lebih buruk daripada kelalaianmu saat berzikir. Karena meninggalkan zikir sama saja menjauhkan diri dari Allah, baik secara hati maupun lisan. Berbeda halnya dengan lalai saat berzikir, meski hatimu jauh dari-Nya, lisanmu tetap dekat dengan-Nya. Oleh karena itu, kau tetap harus berzikir kepada Allah walaupun hatimu lalai saat zikir.
            Semoga Allah menuntunmu dari zikir yang disertai kelalaian menuju zikir yang disertai kesaadaran dan konsentrasi; dari zikir yang disertai kesadaran hati menuju zikir yang mengantarkan hati masuk ke hadirat Ilahi, sehingga kau merasa melihat-Nya saat berzikir dan tidak lalai dari-Nya; dari zikir yang disertai kehadiran hati, menuju zikir yang meniadakan segala hal selain Allah, termasuk zikir itu sendiri sehingga tanpa disadarinya, ia keluar dari zikirnya. Pada saat itulah, Tuhannya akan menjadi lisan yang digunakannya untuk berbicara. Saat bergerak pun, tangan Tuhannyalah yang bergerak. Saat mendengar, Tuhannyalah yang menjadi pendengarannya.
            Mungkin, kondisi seperti itu tampak tidak masuk di akal, tetapi itu benar-benar terjadi. Kondisi seperti itu hanya bisa diketahui dan dirasakan oleh para salik. Sekalipun demikian, para ulama sepakat untuk mempercayai dan meyakininya. Oleh karena itu, jangan sekali-kali mendustakannya sehingga kau akan binasa bersama orang-orang yang binasa.
            Dalam hikmah ini, Ibnu Atha’illah juga melarang seorang murid untuk putus asa dan merasa tidak mungkin sampai pada maqam semacam itu. Maka dari itu, iapun menyitir firman Allah, “Dan yang demikian itu bagi Allah tidaklah sukar.” (QS. Ibrahim [14]: 20) karena Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Seorang murid hanya wajib melaksanakan sebab-sebab, sedangkan hasilnya menjadi urusan Allah.


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Al-Hikam 48

“Sebaik-baik amal adalah amal yang dihasilkan dari sebaik-baik ahwal (keadaan batin) dan sebaik-baik ahwal adalah yang dihasilkan dari kemapanan maqam-maqam yang diraih.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

            Amal terbaik adalah amal yang terbebas dari faktor-faktor yang membuat sebuah amal tidak diterima, seperti riya’ dan mengharap  keuntungan duniawi. Amal yang lebih baik lagi adalah amal yang dikerjakan dengan hati yang senantiasa hadir di hadapan Allah dan tidak peduli dengan bisikan-bisikan setan.
            Ahwal (keadaan batin) terbaik adalah ahwal yang tergambar dalam bentuk sikap zuhud terhadap dunia dan sikap ikhlas kepada Allah. Misalnya, dengan meniatkan amal untuk ‘ubudiyah kepadaNya semata, bukan mencari pahala. Ahwal ini didapat dari kemapanan maqam-maqam yang diturunkan ke dalam hati yang bentuknya berupa makrifat ilahiyah yang menyebabkan seseorang mengabaikan segala keinginan, baik itu keinginan masuk surga maupun keinginan selamat dari neraka.
            Jika seorang murid berhasil meraih itu, ia akan merasa melihat Tuhannya dengan hatinya. Dengan begitu, dalam amalnya, ia tidak berharap selain Allah. Buahnya, amalnya akan terbebas dari segala faktor yang membuat amal tidak diterima. Hikmah ini merupakan dalil dan penegas hikmah sebelumnya.
            Karena sifat-sifat terpuji, biasanya, tidak tumbuh kecuali dari banyaknya zikir. Ibnu Atha’illah menyampaikan demikian.


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Al-Hikam 47

“Amal sedikit dari hati yang zahid tidak bisa dikatakan sedikit. Amal yang banyak dari hati yang tamak tidak bisa dikatakan banyak”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

            Seorang zahid adalah orang yang tidak bergantung pada dunia. Amalnya, walaupun secara kasat mata tampak sedikit, secara maknawi amatlah banyak karena terbebas dari cacat dan kekurangan yang membuat amal itu tidak diterima, seperti riya’, pura-pura di hadapan manusia, mengharap keuntungan duniawi, atau tanpa kehadiran hati di hadapan Allah.
            Sementara itu, amal yang bersumber dari hati yang tamak terhadap dunia, walaupun secara kasat mata amal itu terlihat banyak, secara maknawi amal itu dianggap sedikit karena tidak terbebas dari hal-hal yang mengotori dan mengurangi nilainya.
            Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, “Dua rakaat (shalat sunah) dari seorang zahid yang alim lebih baik daripada ibadah para ‘abid dan mujtahid sepanjang hidup mereka.


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Al-Hikam 46

“Bisa jadi, perbuatan burukmu tampak baik di matamu karena persahabatanmu dengan orang yang lebih buruk daripada dirimu”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

            Artinya, berteman dengan orang yang kualitas kebaikannya berada di bawahmu amat berbahaya karena bisa menyamarkan aib dan kekuranganmu. Akibatnya, kau akan selalu berbaik sangka terhadap dirimu sendiri. Kau bangga dengan amalmu dan merasa puas dengan kondisimu sehingga kau rela hati dan selalu melihat kebaikan-kebaikanmu. Itu adalah pangkal segala keburukan.
            Boleh saja kau berteman dengan orang yang keadaannya tidak membuatmu bersemangat dan ucapannya tidak membimbingmu ke jalan Allah asalkan orang itu sederajat denganmu agar pertemananmu dengannya tidak membahayakanmu.
            Di sini Ibnu Atha’illah ingin menjelaskan bahwa pertemanan dengan orang-orang ‘arif terbagi menjadi dua: pertemanan yang didasari keinginan dan pertemanan yang mengharapkan berkah.
            Pertemanan yang didasari keinginan ialah pertemanan yang harus memenuhi syarat-syaratnya. Kesimpulannya, keberadaan seorang murid dengan syekh atau gurunya seperti seonggok mayat di tangan para pemandi mayat.
            Adapun pertemanan untuk mengharap berkah ialah pertemanan yang tujuannya masuk ke satu kaum dan berpakaian dengan pakaian mereka, serta tunduk pada peraturan mereka. Di sini tidak perlu ada syarat-syarat pertemanan. Yang paling penting adalah bagaimana ia berpegang pada batasan-batasan syara’. Diharapkan dari pertemanannya dengan kaum itu, ia akan mendapakan berkah mereka dan bisa sampai ke maqam yang telah mereka raih.


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Senin, 20 April 2015

Al-Hikam 45

“Jangan kau temani orang yang keadaannya tidak membuatmu bersemangat dan ucapannya tidak membimbingmu ke jalan Allah”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

            Seorang murid dilarang berteman dengan orang semacam itu sekalipun orang itu adalah ahli ibadah atau ahli zuhud karena dianggap tidak ada gunanya. Sebaliknya, kau disarankan berteman berteman dengan orang yang membuatmu bersemangat dan ucapannya membimbingmu ke jalan Allah.
            Misalnya, orang yang tekadnya tinggi senantiasa bergantung kepada Allah, jauh dari makhluk, atau dalam setiap kebutuhannya tidak bertumpu kecuali kepada Allah dan dalam setiap perkara tidak bertawakkal kepada selain-Nya sehingga di matanya seluruh manusia itu tak berarti apa-apa, tidak bisa mendatangkan bahaya ataupun manfaat. Bahkan, ia menganggap dirinya sendiri rendah dan tak berguna, tidak mampu berbuat sesuatu, dan tidak bisa menentukan nasibnya sendiri. Dalam setiap amalnya, ia tetap berjalan pada jalur syara’, tanpa melebih-lebihkannya atau menguranginya. Inilah sifat orang-orang ‘arif yang mengenal Allah.
            Menemani orang-orang seperti itu, walaupun ibadahnya sedikit dan amalan sunahnya tidak banya, amat dianjurkan bagi seorang murid karena banyak mendatangkan manfaat, baik dari sisi agama maupun dunia sebab manusia selalu mengikuti tabiat manusia lain.
            Adapun orang-orang yang tidak memiliki sifat-sifat di atas, kita hanya diperbolehkan bergaul dengan mereka secara lahir, tidak lebih, karena tidak ada gunanya bergaul dengan mereka. Jika mereka sederajat denganmu, pergaulanmu denga mereka tidak akan mendatangkan bahaya apa-apa bagimu. Namun, jika derajat mereka berada di bawahmu, Ibnu Atha’illah memberikan nasihatnya melalui hikmah selanjutnya:


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Al-Hikam 44

“Dengarlah sabda Rasulullah, “Siapa yang hijrahnya kepada Allah dan rasulnya maka hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya kepada dunia yang ingin diraihnya atau kepada perempuan yang ingin dinikahinya maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya.” Pahamilah sabda Rasulullah ini dan perhatikan hal tersebut jika kau memiliki kecerdasan dan pemahaman.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

            Hadis ini menegaskan makna hikmah sebelumnya. Hadis ini patut diperhatikan dan dicamkan baik-baik, terutama pada bagian akhir, yaitu bahwa hijrah seseorang akan berakhir di tempat yang menjadi tujuan hijrahnya. Maknanya, orang yang hijrahnya kepada dunia saja tidak akan meraih pencapaian dan kedekatan yang diraih oleh orang-orang yang berhijrah kepada Allah dan rasul-Nya. Seakan Rasulullah memperingatkan kita tentang pengaruh buruk dunia dan perempuan terhadap jiwa bila kita terlalu terobsesi pada dunia dan perempuan.
            Sabda beliau “maka hijrahnya kepada Allah dan rasu-Nya” bermakna pergi dari alam menuju Pencipta alam. Inilah yang dituntut dari seorang hamba. Adapun makna ungkapan “maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya” adalah tetap berada di alam, tidak kemana-mana, dan hanya berputar-putar ditempat.
            Kesimpulannya, kita dituntut untuk menguatkan tekad, menjauhkan keinginan dari makhluk, dan menggantungkan diri kepada Yang Maha Haq. Tentu, faktor yang bisa memudahkan kita sampai pada maqam ini ialah pergaulan dengan kaum ‘arif yang mengenal Allah.


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Al-Hikam 43

“Jangan kau pergi dari suatu alam ke alam lain sehingga kau menjadi seperti keledai penggilingan yang berputar-putar; tempat yang ia tuju adalah tempat ia beranjak. Namun, pergilah dari alam menuju pencipta alam. “Sesungguhnya kepada Tuhanmu puncak segala tujuan.””
(QS.an-Najm[53]: 42)
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

            Maksudnya adalah beramal disertai dengan sifat riya’ atau sifat-sifat tercela lainnya dan tidak bernilai syar’i. Jika seseorang murid ber-mujahadah, lalu berhasil menjauhi sifat-sifat tercela, tetapi pada saat yang sama ia mengharapkan pahala dan ketinggian derajat atau maqam, ia masih dianggap tercela dimata para ‘arif. Yang terpuji adalah yang meniatkan setiap amalnya hanya karena Allah semata.
            Ibnu Atha’illah mengumpamakan kepergian dari suatu alam ke alam lain dengan perjalanan keledai penggilingan yang hanya berputar-putar di tempatnya. Demikian pula dengan amal yang tidak ditujukan karena Allah. Orang yang beramal demi mengharap pahala, misalnya, dianggap sebagai orang yang berpergian dari satu alam, yakni alam riya’ menuju alam lain, yakni alam pahala. Semua alam adalah sama; sama-sama materi.
            Yang benar adalah kau harus pergi dari alam menuju Pencipta alam dengan cara mengikhlaskan amalmu hanya untuk-Nya dan tidak berharap balasan, baik langsung maupun tak langsung. Siapa yang beramal untuk mendapatkan kedudukan atau maqam tertentu maka dia akan menjadi budak kedudukan itu. Siapa yang beramal karena Allah semata maka dia akan menjadi hamba Allah. Ini sama dengan kepergiannya dari alam meuju Pencipta alam.
            “Sesungguhnya, Tuhanmu adalah puncak segala tujuan.” Maksudnya, perjalananmu akan berakhir di hadirat-Nya sehingga keinginanmu terwujud. Sebaliknya, orang yang pergi dari suatu alam ke alam lain, perjalanannya tidak akan pernah berujung kepada Allah dan ia tidak pernah akan sampai kepada-Nya.


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Al-Hikam 42

“Sungguh aneh! Orang menghindar dari sosok yang tak bisa dihindari, lalu mencari sesuatu yang tidak kekal. “Sesungguhnya, mata kepala itu tidak buta, tetapi yang buta adalah mata hati yang ada di dalam dada.””
(QS.al-Hajj[22]: 46)
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

            Sungguh mengherankan, orang ingin menghindari Allah dengan tidak melakukan apa yang sudah ditetapkan-Nya untuknya dan lebih suka mencari dunia dan perkara-perkara selain-Nya karena mengikuti hawa nafsu.
            Tindakan ini bersumber dari kebutaan mata hati dan kebodohannya tentang Tuhannya karena ia menukar sesuatu yang teramat baik dengan sesuatu yang hina. Ia juga lebih mengutamakan yang fana daripada yang kekal dan tak bisa dihindarinya. Sekiranya ia memiliki mata hati yang tajam, niscaya ia takkan melakukan hal itu.


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Al-Hikam 41

“Jika kau tidak bisa berbaik sangka kepada Allah karena kebaikan sifat-sifatNya, berbaik sangkalah kepada-Nya atas kebaikan perlakuan-Nya terhadapmu. Bukankah Dia selalu memberimu yang baik-baik dan mengaruniaimu berbagai kenikmatan?”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

            Dalam hikmah ini, Ibnu Atha’illah mengisyaratkan bahwa dalam berbaik sangka kepada Allah, manusia terbagi menjadi dua golongan: golongan khusus dan golongan awam.
            Golongan khusus berbaik sangka kepada Allah atas sifat-sifatNya yang baik. Sementara itu golongan umum berbaik sangka kepada Allah atas perlakuan-Nya yang baik terhadap diri mereka, berupa karunia dan nikmat yang telah diberikan-Nya terhadap mereka.
            Ada perbedaan mencolok antara dua maqam tersebut. Ibnu Atha’illah seakan berkata, wahai murid, kau harus berbaik sangka kepada Allah secara mutlak, baik itu atas manfaat yang telah diberikan-Nya maupun bahaya yang telah dijauhkan-Nya darimu. Kau tidak boleh berpaling kepada selain-Nya. Jika kau tak sanggup berbaik sangka kepada-Nya menurut maqam orang khusus, kau bisa berbaik sangka kepada-Nya menurut maqam orang awam. Sikap berbaik sangkamu kepada Allah atas kebaikan sifat-sifatNya akan menumbuhkan cinta dan tawakkal yang benar kepada-Nya. Baik sangkamu kepada-Nya atas perlakuan-Nya yang baik terhadapmu akan membuahkan syukur atas nikmat dan rahmat-Nya.


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)