Minggu, 30 Agustus 2015

Al-Hikam 115

“Orang lalai memulai harinya dengan memikirkan, apa yang harus dia kerjakan. Sementara itu, orang berakal merenungkan, apa yang akan Tuhan lakukan terhadapnya.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Orang yang lalai ialah yang lupa tauhid dan lupa bahwa segala sesuatu terjadi atas ketetapan dan takdir Allah. Di pagi hari, orang seperti ini akan menisbahkan semua amalnya kepada dirinya sendiri. Biasanya ia berkata, “Apa yang akan kulakukan hari ini?”
Sementara itu orang berakal, saat bangun pagi, ia tidak lalai dari tauhid dan tidak lupa bahwa segala sesuatu terjadi dengan ketentuan dan takdir Allah. Ia juga menisbahkan semua amalnya hanya kepada Allah. Orang seperti ini akan berkata, “Apa yang akan dilakukan Allah terhadapku hari ini?”
Orang lalai akan selalu melihat kemampuan dirinya sendiri. Saat Allah membebaninya dengan sebuah pekerjaan, pekerjaan itu tidak akan berhasil. Sementara itu, orang yang berakal hanya akan melihat kepada Tuhannya. Oleh karena itu, Allah akan mencukupi keinginannya dan memudahkan semua permintaannya. Ini adalah sebuah patokan agar murid bisa mengenali kondisi dirinya.
Hal pertama yang harus terdetik dalam hati seorang murid adalah kadar tauhidnya. Seberapa besar kadar tauhidnya? Itu bisa dilihat melalui kadar cahaya yang datang kepadanya. Jika sejak pertama hatinya hanya memandang pada daya dan kekuatannya, ia akan terputus dari Allah. jika ia sadar dan kembali Allah, tentu ia pun akan sampai kepada-Nya.


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Al-Hikam 114

“Datangnya bantuan Allah sesuai dengan tingkat kesiapan, dan terbitnya cahaya sesuai dengan kadar kejernihan jiwa.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Datangnya pertolongan Allah kepada hamba-Nya bergantung pada kesiapan seorang hamba membersihkan hatinya dan seberapa sering ia melakukan wirid. Oleh sebab itu, dikatakan, “Bersihkan hatimu dari dunia maka Kami akan mengisinya dengan makrifat dan rahasia.”
Setiap warid akan selalu mengikuti wirid, sesuai kondisinya. Jika wiridnya sempurna, misalnya bersumber dari hati yang bersih, warid-nya pun akan sempurna. Jika wirid kurang, warid pun akan kurang. Jika wiridnya banyak, warid-nya akan banyak. Setiap warid akan bergantung pada wiridnya. Jika wiridnya dilakukan terus-menerus, warid pun akan mengalir terus-menerus.
Oleh sebab itu, amal yang paling dicintai Allah adalah yang paling sering dilakukan walaupun sedikit. Jika amal itu sering dilakukan, bantun Allah pun akan sering diberikan.
Kalimat “terbitnya cahaya sesuai dengan kadar kejernihan jiwa” merupakan penegas dan penjelas ungkapan sebelumnya. Maknanya, terbitnya cahaya keyakinan dan makrifat bergantung pada kejernihan batin dari kekotoran yang diakibatkan sikap bergantung pada dunia. Kejernihan batin itu sendiri tidak akan terjadi, kecuali dengan seringnya melakukan wirid.


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Al-Hikam 113

“Hanya orang bodoh yang meremehkan wirid. Limpahan karunia-Nya (warid) terus ada hingga negeri akhirat, tetapi wirid terhenti dengan selesainya dunia. Maka dari itu, yang paling perlu mendapat perhatian adalah yang tidak ada gantinya di akhirat (yaitu wirid). Allahlah yang menuntut wirid darimu, sedangkan engkau yang menuntut karunia dari-Nya. Oleh karena itu, sungguh jauh perbedaan antara apa yang Dia tuntut darimu dan apa yang kautuntut dari-Nya.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Wirid ialah amal shaleh yang mengisi waktu-waktu dan membuat seluruh anggota tubuh menjauhi hal-hal yang dibenci-Nya. Orang bodoh akan meremehkan wirid, padahal di dalamnya terkandung ‘ubudiyah kepada Allah, rasa hadir bersama-Nya, zikir, pembersihan batin, serta dapat menarik cahaya karuia Ilahi. Menjalani wirid tanpa memedulikan hasilnya termasuk kebodohan.
Ibnu Atha’illah menyebutkan, wirid lebih utama daripada warid bila ditinjau dari dua sisi. Pertama, warid ialah karunia yang masuk ke dalam batin seorang hamba, berupa makrifat Tuhan dan kelembutan jiwa atau cahaya-cahaya yang membuat hati lapang dan bersinar terang. Warid ini akan tetap ada hingga negeri akhirat, sedangkan wirid akan musnah dengan musnahnya dunia. Oleh karena itu, yang perlu mendapat perhatian adalah yang wujudnya akan sirna. Artinya, seorang hamba harus memperbanyak wirid sebelum tertinggal karena ia tidak mungkin mengganti wirid yang hilang dan tertinggal.
Kedua, wirid merupakan sesuatu yang dituntut Allah darimu. Adapun warid, kaulah yang memintanya dari Allah. Oleh karena itu, yang kauminta dari-Nya tidak sebanding dengan yang Dia minta darimu. Tentu, yang diminta-Nya darimu lebih utama daripada yang kauminta dari-Nya. Wirid adalah hak Allah atasmu, sedangkan warid (karunia) adalah hakmu atas-Nya. Melaksanakan hak-Nya tentu lebih utama dan lebih patut daripada meminta keuntungan dan bagian dari-Nya.
Ibnu Atha’illah ingin mengingatkan para murid yang tamak terhadap warid (karunia), namun mengabaikab wirid. Tindakan itu merupakan akibat kebodohan dan ketidaktahuannya tentang buah dan hasil wirid. Oleh karena itu, orang-orang ‘arif tidak meninggalkan wirid, padahal ahwal mereka lebih baik daripada para murid.


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Jumat, 28 Agustus 2015

Al-Hikam 112

“Tidak setiap orang yang memperoleh keistimewaan sepenuhnya terbebas dari dorongan nafsu.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Tidak setiap orang yang mendapatkan perkara luar biasa, seperti dapat mempersingkat perjalanan, terbang di udara, atau berjalan di atas air, sepenuhnya terbebas dari gejolak nafsu, dorongan syahwat, kesalahan, dan pelanggaran.
Ibnu Atha’illah berkata, “Tidak semua orang yang mendapat karamah terbebas dari salah,” Bahkan mungkin, sebagian orang yang mendapatkan karamah itu tidak mampu istikamah.
Karamah sejati adalah sikap istikamah yang dimiliki seseorang. Lain halnya dengan karamah yang berupa perkara-perkara luar biasa yang kadang kala terjadi pada orang yang tidak beristikamah dengan sempurna. Bahkan, karamah seperti ini banyak terjadi pada para pemula dan tidak tampak pada orang yang sudah benar-benar istikamah dan tawakkal. Sekalipun demikian, keduanya termasuk orang-orang yang dekat dengan Allah. Oleh karena itu, kita harus tetap menghormati mereka dan memuliakannya. Namun, ahli istikamah lebih harus dimuliakan daripada ahli istikamah.


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Al-Hikam 111

“Ketika secara lahir Allah menjadikanmu taat melaksanakan perintah dan secara batin menganugerahkan sikap pasrah kepada-Nya, berarti Dia telah melimpahkan nikmat yang besar padamu.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Ketika Allah menjadikanmu taat, dengan memberimu taufik untuk melaksanakan berbagai ketaatan, dan membuatmu ridha dengan putusan Tuhanmu, berarti Dia telah melimpahkan karunia yang paling besar kepadamu. Dalam karunia itu, Dia telah menghimpun ‘ubudiyah batin dan ‘ubudiyah lahir pada dirimu.
Kedua perkara inilah yang menuntutmu untuk menghambakan diri kepada Allah semata. Lantas, mengapa kau masih tamak? Apa lagi yang kaucari setelah mendapat dua perkara itu jika kau seorang hamba sejati? Ketahuilah, tak ada kedudukan sempurna, kecuali saat kau berjuang dalam ‘ubudiyah lahir dan ‘ubudiyah batin.


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Al-Hikam 110

“Jangan menuntut Tuhan lantaran permintaanmu terlambat dikabulkan. Namun, tuntutlah dirimu lantaran terlambat melaksanakan kewajiban.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Jangan protes kepada Tuhan dan berburuk sangka kepada-Nya jika permintaanmu terlambat dipenuhi-Nya, baik yang batin, seperti keistimewaan tertentu, maupun yang lahir, seperti kebutuhan duniawimu.
Jika kau meminta sesuatu dari-Nya dan jawabannya tidak diberi langsung, jangan kau berburuk sangka kepada-Nya dan jangan memaksa-Nya untuk menunaikan permintaanmu itu karena Dia melakukan apa saja yang dikehendaki-Nya tanpa dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dilakukan-Nya. Jika permintaanmu ditunda, tuntutlah dirimu atas keterlambatan pengabulan do’amu itu karena kau telah meminta agar disegerakan jawaban do’amu. Tentu ini merupakan sikap yang tidak sopan dan kurang ajar terhadap Tuhan.
Tuntutanmu agar Tuhan segera mengabulkan do’amu merupakan bukti bahwa kau berdo’a hanya untuk dikabulkan. Do’amu hanya  memiliki tendensi tertentu. Inilah yang mengurangi kesempurnaan ‘ubudiyah-mu. Demikian pula halnya dengan keyakinanmu bahwa Dia tidak akan mengabulkan do’amu. Ini adalah sikap yang tidak sopan karena belum tentu pengabulan do’a itu berupa sesuatu yang kau inginkan langsung. Allah berhak menahannya darimu karena bisa jadi tindakan itu lebih baik bagimu.
Ibnu Atha’illah mengisyaratkan sebuah etika. Jika dipegang oleh seorang hamba, ia akan mendapatkan tujuan dan maksudnya, yaitu sikap istikamah dan berjalan pada jalan yang lurus, seperti dalam firman Allah, “Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. al-Fatihah [1]: 6)


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Al-Hikam 109

“Mahasuci Dzat yang menyembunyikan keistimewaan (seorang wali) dengan menampakkan sifat-sifat kemanusiaan(nya), dan memperlihatkan keagungan rububiyah-Nya di dalam kehambaan (makhluk-Nya).”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Diantara keistimewaan yang dimaksud dalam hikmah di atas adalah ilmu pengetahuan dan rahasia-rahasia Ilahi yang diberikan dan dilimpahkan Allah ke dalam hati para wali-Nya.
“Sifat-sifat kemanusiaanya” ialah hal-hal duniawi yang biasa dialamai dan dihadapi manusia secara umum. Terkadang, sebagian wali berprofesi sebagai pengemudi keledai tunggangan atau penenun. Bisa jadi tak ada seorang pun yang mengetahui bahwa ia adalah seorang wali karena keistimewaan mereka tertutup profesi yang digeluti atau tersamar-samar oleh sikap-sikap mereka yang tidak berbeda dengan kebanyakan manusia lainnya, seperti bertengkar atau beradu mulut dengan orang.
Namun, terkadang pula, Allah menampakkan tanda-tanda keistimewaan itu pada sebagian manusia, seperti pada para dai. Allah menampakkannya pada para dai agar dengan peran mereka seluruh manusia menjadi baik dan sempurna.
Dan keagungan rububiyah-Nya terlihat ketika Dia memperlihatkan kehambaan makhluk. Artinya, keagungan rububiyah Allah akan tampak manakala Dia memperlihatkan tanda kehambaan seluruh makhluk. Yang dimaksud tanda kehambaan makhluk adalah kondisi-kondisi yang membuat seorang makhluk membutuhkan Tuhan, seperti penyakit dan kemiskinan. Seorang hamba, jika mengalami salah satu kondisi itu, ia akan berlindung kepada Tuhannya dan memohon agar diselamatkan dari kondisi itu.
Di sinilah rububiyah Allah akan ditampakkan-Nya kepada hamba-Nya itu. Allah ingin menegaskan bahwa hamba itu memiliki Tuhan yang Mahakuasa dan bisa menghilangkan kondisi yang dialaminya. Tanpa hal itu, Allah tidak akan mengenalkan  keagungan rububiyah-Nya. Tanpa hal itu juga, keagungan rububiyah Allah hanya akan terselubung dan tidak akan tampak ke permukaan.
Oleh sebab itu, asy-Syadzili berkata, “’Ubudiyah adalah isi. Ia akan ditampakkan oleh rububiyah.” Mahasuci Tuhan yang Mahalembut dan Maha Meliputi segala sesuatu.


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Al-Hikam 108

“Bukan ketidakjelasan jalan yang dikhawatirkan dari dirimu. Yang dikhawatirkan adalah menangnya hawa nafsu atas dirimu.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Ketidakjelasan jalan bermakna ketidakjelasan jalan ‘ubudiyah yang dapat mengantarmu ke hadirat Tuhanmu saat kau mengalami satu ahwal. Padahal, jalan ‘ubudiyah ini telah dijelaskan syariat. Siapa yang menelaah al-Qur’an dan sunnah maka ia akan mendapatkan bimbingan yang gambling dalam meniti jalan itu.
‘Ubudiyah-mu dalam ketaatan adalah dengan menyaksikan karunia ketaatan itu. ‘Ubudiyah dalam maksiat adalah dengan beristighfar dan bertobat. Adapun ‘ubudiyah-mu dalam kenikmatan adalah dengan mensyukuri nikmat tersebut dan ‘ubudiyah dalam cobaan adalah dengan bersabar.
Dalam semua kondisi di atas, yang dikhawatirkan dari dirimu adalah kemenangan hawa nafsu atas dirimu sendiri sehingga ia membutakan matamu sampai kau tidak bisa melihat jalan tujuanmu. Ia bisa membuatmu bersikap sombong dan ‘ujub atas ketaatanmu, mendorongmu untuk selalu bermaksiat, mengabaikan nikmat dan tidak mensyukurinya, atau gelisah dan sedih saat menerima musibah.
Bisa jadi makna hikmah di atas adalah yang dikhawatirkan dirimu, bukan ketidaktahuanmu tentang mana di antara sekian amal yang harus kauutamakan. Ini akan kaualami jika kau tidak dibimbing oleh seorang syekh atau guru. Yang dikhawatirkan darimu justru adalah saat hawa nafsu mengalahkanmu. Hawa nafsu akan menghalangimu untuk melakukan amalan-amalan tersebut sehingga kau malah mengurungkan niat meniti jalan menuju Tuhan. Bahkan, kau meninggalkan jalan yang semestinya kau gunakan untuk mendekatkan diri kepada-Nya.
Jika kau tidak mengetahui mana yang lebih utama di antara semua amal itu, sebaiknya kau mencari seorang syekh pembimbing agar kau diajari dan dibimbingnya.


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Al-Hikam 107

“Siapa yang mengira kemahalembutan-Nya terlepas dari kemahakuasaan-Nya, berarti ia memiliki pandangan yang sempit.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Kemahakuasaan Allah terlihat saat Allah menimpakan petaka dan ujian kepadanya. Jika ia mengira bahwa kelembutan Allah itu terpisah dari kekerasan-Nya, hal itu menandakan pandangannya sempit. Sekiranya pandangannya sempurna, ia akan menyadari bahwa dalam petaka dan ujian itu ia banyak mendapat kelembutan Allah. misalnya, dengan ujian itu ia bisa mendekatkan diri kepada-Nya.
Ujian yang ditimpakan Allah kepada hamba-hamba-Nya pasti bertolak belakang dengan keinginan mereka dan membuat nafsu syahwat mereka meronta. Tentu setiap hal yang menggangu atau menyakiti nafsu pasti akan berbuah baik, bahkan sebelum hamba itu kembali kepada Allah dan mengetuk pintu-Nya. Ini adalah faedah terbesar dari ujian dan cobaan. Hamba yang mendapatkan ujian akan mendapati jiwanya lemah, kekuatannya terbatas, dan sifat-sifat yang telah mendorongnya melakukan dosa atau maksiat serta menguatkan keinginannya terhadap dunia adalah batil.
Dengan  ujian itu, biasanya seorang hamba akan meraih ketundukan hati, sabar, ridha, tawakkal, zuhud, dan ingin bertemu Allah. bagaimanapun, sebiji sawi amalan hati lebih baik daripada segunung amalan anggota tubuh. Dengan ujian itu pula, ia akan mendaptkan penghapusan dosa dan kesalahan serta  meraih kelembuutan Ilahi lainnya.


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Selasa, 18 Agustus 2015

Al-Hikam 106

“Agar ujian terasa ringan, engkau harus mengetahui bahwa Allahlah yang memberimu ujian. Dzat yang menetapkan beragam takdir atasmu adalah Dzat yang selalu memberimu pilihan terbaik.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Kau harus sadar bahwa Allah yang mengujimu, bukan yang lain. Dia yang lebih mengetahui maslahatmu daripada dirimu sendiri. Kesadaran ini akan menjadi sebab kebahagiaan, kesenangan, ketawakkalan, dan kesabaranmu. Dzat yang menetapkan berbagai perkara yang ditakdirkan untukmu, seperti penyakit, hilangnya harta dan anak, atau yang lainnya, adalah Dzat yang memilihkan untukmu perkara terbaik yang sesuai denganmu.
Dalam kehidupan ini pun kau kerap menyaksikan bahwa orang yang selalu berbuat baik kepadamu bisa saja sewaktu-waktu bersikap buruk dan berbuat kasar kepadamu. Sekalipun demikian, kau tetap sabar menghadapi sikap buruknya karena mungkin saja kekasaran dan keburukan sikapnya itu didasari oleh niat baik dari dalam lubuk hatinya.
Demikian pula seorang hamba, jika ia mengetahui bahwa Allah swt. Maha Pemurah, Mahalembut, dan Maha Melihat kepadanya, setiap petaka dan ujian yang dijatuhkan kepadanya tidak perlu dipedulikan karena Allah tidak menghendaki dirinya kecuali kebaikan. Dengan kesadaran itu, ia akan berbaik sangka kepada Allah dan yakin bahwa itu adalah pilihan-Nya untuknya. Ia harus yakin bahwa dalam ujian itu terkandung maslahat tersamar bagi dirinya yang tidak diketahui, kecuali oleh Allah.
Allah swt. berfirman, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS.al-Baqarah [2]: 216)
Abu Thalib al-Makki berkata tentang ayat ini, “Seorang hamba benci kemiskinan, kekurangan, kelemahan, dan bahaya, padahal itu lebih baik baginya di hari akhir. Mungkin ia suka kekayaan, kesehatan, dan popularitas, padahal di sisi Allah itu lebih buruk baginya dan lebih jelek akibatnya.”


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Al-Hikam 105

“Allah menerangi alam lahir dengan cahaya makhluk-makhluk-Nya, dan menerangi alam batin dengan cahaya sifat-sifat-Nya. Cahaya alam lahir pasti terbenam, dan cahaya hati tak kan pernah padam. Karena itu seorang penyair berkata, “Matahari siang terbenam dengan datangnya malam, matahari hati takkan pernah sekalipun menghilang.””
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Allah menerangi seluruh langit dan bumi dengan cahaya dari jejak sifat-sifat-Nya atau dengan cahaya matahari, bulan, dan bintang yang kesemuanya mencerminkan sifat qudrah dan iradah Allah. seluruh fenomena alam nyata ini menjadi terbuka bagi kita dengan cahaya bintang-bintang itu. Saat itu, kita bisa melihat seluruh alam semesta dan mengambil manfaat darinya atau menghindari bahayanya.
Allah menerangi relung batin dengan ilmu pengetahuan yang bersumber dari penampakan sifat-sifat-Nya pada hati orang-orang ‘arif. Relung batin orang-orang ‘arif itu menjadi terbuka dengan cahaya ilmu pengetahuan yang bersumber dari sifat-sifat Allah atau meresapnya sifat-sifat itu dalam hati mereka. Saat itulah, orang-orang ‘arif akan bisa melihat berbagai sifat yang ada dalam batin mereka sehingga mereka akan menghindari bahayanya dan mengambil manfaatnya.
Alam semesta bisa nyata dengan cahaya makhluk-Nya dan relung batin bisa nyata dengan cahaya sifat-sifat-Nya. Cahaya makhluk bersumber dari sesuatu yang hadits (baru), sedangkan cahaya sifat-sifat-Nya bersumber dari Dzat yang Qadim (terdahulu). Semua cahaya lahir (yang berasal dari makhluk) itu akan redup.
Cahaya matahari akan hilang di malam hari. Cahaya bintang dan bulan akan hilang di siang hari. Namun, cahaya hati yang bersumber dari penyaksian terhadap sifat-sifat Allah yang Qadim tidak akan pernah hilang dan redup. Tentu saja cahaya yang bersumber dari Yang Maha Qadim tidak akan sirna.
Yang membuat cahaya itu tidak Nampak adalah sifat-sifat kemanusiaan yang ada pada diri orang-orang ‘arif, sehingga cahaya itu seolah-olah tak ada. Padahal cahaya itu tetap ada dalam hati mereka. Oleh sebab itu, seorang penyair berkata, “Sesungguhnya matahari siang terbenam menjelang malam, namun matahari hati takkan pernah tenggelam.”
Syair lain mengatakan:
“Matahari pecinta Tuhan akan terbit di malam hari. Ia akan memancarkan sinarnya dan tak pernah terbenam.”
Disini terkandung peringatan bahwa perkara-perkara yang abadi itulah yang harus disukai, disenangi, dan dijaga kondisinya. Lain halnya dengan perkara-perkara fana yang bisa terbenam, ia tak perlu digandrungi. Bila demikian, seorang hamba akan mengikuti keyakinan dan prinsip Ibrahim saat ia berkata, “Saya tidak suka sesuatu yang terbenam dan hilang.”


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Al-Hikam 104

“Seorang ‘arif selalu merasa butuh pada-Nya dan hanya merasa tenang jika bersama-Nya.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Keebutuhan seorang ‘arif selalu ada karena ia melihat kuasa Allah yang Maha Menyeluruh, mengenali dirinya sendiri dengan baik, dan menyadari kebutuhannya setiap saat. Lain halnya dengan orang yang tidak ‘arif, ia terkadang butuh, lalu berdo’a, terkadang pula berdo’a, namun tidak butuh. Hal itu dikarenakan kebutuhan orang-orang awam bergantung pada adanya dorongan sebab-sebab. Mereka terlalu didominasi oleh indra dalam penyaksiannya. Jika sebab-sebab itu hilang dari mereka, kebutuhan mereka pun akan sirna.
Sekiranya mereka melihat kuasa Allah yang menyeluruh, niscaya mereka mengetahui bahwa kebutuhan mereka kepada Allah bersifat abadi. Mereka tidak akan tenang dan hati mereka tidak akan bergantung kecuali kepada Allah semata, karena sesekali mereka merasa butuh kepada sesuatu, tetapi hati mereka menolak sesuatu itu. Ini menandakan bahwa “kebutuhan akan bantuan-Nya” dan “tergeraknya lisan untuk meminta kepada-Nya” merupakan sifat orang-orang ‘arif.


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Al-Hikam 103

“Ketika lisanmu digerakkan untuk meminta, berarti Dia hendak memberimu.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Diam adalah sifat yang dituntut dari seorang hamba yang tak lagi membutuhkan perkara duniawi dan tidak lagi memerhatikan berbagai kebutuhannya.
Namun, Allah bisa saja melepas tuntutan diam itu darimu. Misalnya, dengan memberimu kemiskinan dan kebutuhan sehingga kaupun terdorong untuk berdo’a kepada-Nya. Maka di saat itulah lisanmu digerakkan untuk meminta kepada-Nya dengan lisan keterdesakan. Ini berarti juga bahwa keinginanmu akan terwujud, sebab janji Allah untuk mengabulkan do’a seseorang yang tedesak kebutuhan pasti akan ditepati-Nya. Allah tidak pernah melanggar janji-Nya.
Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang diberi kesempatan berdo’a maka pengabulannya tidak akan terhalang.” Pengabulan do’a itu bisa berupa sesuatu yang dimintanya, bisa pula selainnya; bisa langsung atau tidak langsung.
Seseorang berkata, “Pengabulan ini terjadi bila do’a itu bersumber dari ikhtiar dan niat baik. Adapun jika ia mengalir saja dari lisan tanpa disertai niat dan tujuan, pengabulannya yang berupa sesuatu yang diminta mungkin agak sedikit telat.”


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Al-Hikam 102

“Apabila Allah telah membuatmu jemu dengan makhluk, ketahuilah bahwa Dia hendak membukakan untukmu pintu kemesraan dengan-Nya.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Di antara contoh sikap jemu dengan makhluk adalah merasa muak ketika melihat perilaku manusia, merasa lelah menyembunyikan rahasia dari mereka, atau merasa bahwa mereka tidak dapat mencukupi kebutuhanmu sama sekali. Dengan perasaan jemu ini, Allah telah membukakan pintu kedekatan-Nya denganmu. Jika Dia telah membukakan pintu itu dan menyerumu dengan panggilan-Nya, kau akan menjadi milik-Nya sendirian sehingga kau akan membenci selain-Nya.
Ini seperti yang dialami Abu Yazid. Dikisahkan bahwa ia mendapatkan berbagai keajaiban dan keistimewaan. Kepadanya ditanyakan, “Apakah semua itu membahagiakanmu?” Dia menjawab, “Saya tidak sedikitpun merasa bahagia dengan ini semua.” Kemudian kepadanya dikatakan, “Kau benar-benar hamba Allah yang sejati.”


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Al-Hikam 101

“Sebaik-baik waktumu adalah ketika kau menyadari betapa tergantungnya dirimu kepada Allah dan betapa hinanya dirimu.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Ini dianggap waktu terbaik karena pada waktu ini kau merasa hadir dengan Tuhanmu. Kaupalingkan pandanganmu dari segala media, sarana, dan sebab-sebab yang membuatmu semakin jauh dari-Nya. Lain halnya ketika kau merasa kaya dan mulia, maka itu adalah waktu terburuk bagimu.
Dikisahkan dari ‘Atha as-Silmi bahwa ia, selama tujuh hari tidak mencicipi sedikitpun makanan dan tidak bisa melakukan apa-apa. Namun, hatinya bahagi mengalami hal itu. Ia berkata, “Tuhanku, sekiranya Engkau tidak memberiku makan tiga hari lagi ke depan, aku akan shalat menyembah-Mu sebanyak seribu rakaat.”
Diceritakan pula bahwa suatu malam, Fatah al-Mushil pulang ke rumahnya. Ia tidak mendapati hidangan makan malam, lampu penerang, dan tidak pula kayu bakar. Ia tetap memuji Allah dengan mengucap Alhamdulillah seraya beribadah kepada-Nya. Ia berdo’a, “Tuhanku, dengan sebab dan washilah (perantara) apalagi agar Engkau memperlakukanku seperti memperlakukan para wali-Mu?”
Demikian pula yang terjadi pada Fudhail bin Iyyadh. Ia berkata, “Dengan amal apa lagi supaya aku layak mendapatkan hal ini dari-Mu agar aku terus mengalaminya?”
Banyak kejadian serupa yang terjadi pada  orang-orang yang dekat dengan Allah. Oleh sebab itu, Ibnu Atha’illah berkata, “Kebutuhan adalah hari raya para murid.”


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Al-Hikam 100

“Ketergantungan kepada Allah adalah hakikatmu. Sedangkan munculnya sebab-sebab ketergantungan adalah pengingat akan hakikatmu yang tak kausadari itu. Dan ketergantungan yang bersifat hakiki itu takkan mungkin pernah terpenuhi oleh sesuatu yang nisbi.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Jika kau mengerti bahwa kau tidak mungkin ada tanpa adanya bantuan Allah, berupa nikmat penciptaan dan pemenuhan semua kebutuhanmu, maka sudah semestinya kau sadar bahwa ketergantungan kepada Allah adalah hakikat atau substansi dirimu.
Namun kebanyakan manusia tidak menyadari hakikat  diri mereka, terutama ketika mereka sedang diberi nikmat kesehatan dan kekayaan. Bahkan lebih dari itu, mereka tidak hanya lupa terhadap hakikat diri mereka tetapi juga lupa terhadap Tuhan mereka. Oleh karena itu, Allah menurunkan kepada mereka “sebab-sebab ketergantungan kepada Allah” agar mereka kembali sadar dan ingat. “Sebab-sebab ketergantungan kepada Allah” itu bisa berupa penyakit, rasa lapar, haus, panas, dingin, dsb.
“Sebab ketergantungan kepada Allah” itu akan membuatmu sadar dan ingat kembali akan hakikat dirimu, yang sebelumnya tertutup oleh kesehatan dan kekayaan. Sehingga di saat itu pula kau akan melaksanakan  hak-hak ‘ubudiyah kepada Allah, dan berdo’a kepada-Nya agar memenuhi kebutuhanmu dan menghapus segala deritamu.
Sebagian orang mengatakan, “Yang membuat Fir’aun berani mengaku sebagai tuhan adalah karena ia selalu dalam keadaan sehat dan segar bugar selama empat puluh tahun. Ia tidak pernah sakit, meskipun itu sakit kepala. Kekayaannya melimpah dan kekuasaannya tak terbatas. Karena itulah ia merasa seperti tuhan. Senadainya ia sakit sekali saja, atau merasa bosan dengan kehidupan, niscaya itu akan menghalanginya untuk mengaku diri sebagai tuhan.”
Dan ini pula yang terjadi pada mayoritas manusia. Kecuali orang-orang yang ‘arif. Karena mereka selalu menyadari hakikat diri mereka. Dan mereka tidak perlu lagi diingatkan. “Sebab-sebab ketergantungan” yang Allah timpakan kepada mereka hanyalah untuk memperlihatkan kesungguhan penghambaan mereka.
Cobaan dan penderitaan hidup justrus semakin membuat mereka merasa tergantung kepada Allah, semakin membuat mereka taat dan kembali kepada-Nya. Dan dengan keridaan dan kepasrahan yang mereka perlihatkan itu, pahala mereka semakin bertambah dan kedudukan mereka di mata Allah pun semakin mulia.
“Ketergantungan kepada Allah” yang merupakan hakikat atau substansi manusia ini tidak mungkin bisa dihilangkan oleh sesuatu yang bersifat sementara atau nisbi. Dengan kata lain, walaupun kau kaya, sehat atau berkuasa, tetap saja kau tidak bisa lepas dari ketergantungan kepada Allah. Kekayaan, kesehatan ataupun kekuasaan adalah relative dan sementara. Bukan perkara sulit bagi Allah untuk menghilangkan itu semua dari dirimu dan menggantinya dengan yang sebaliknya, sehingga kau benar-benar merasa betapa hidup ini tergantung kepada Allah.


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Al-Hikam 99

“Mula-mula, Dia memberimu nikmat penciptaan, lalu memenuhi semua kebutuhanmu secara terus menerus.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Sekiranya seorang hamba mengetahui bahwa awal dan kesinambungan wujudnya dari Allah, niscaya dia mengetahui bahwa kebutuhan adalah sifat aslinya. Maka dari itu, ia amat membutuhkan pertolongan Allah karena setelah berwujud, setiap saat ia teramat miskin dan papa. Ia amat membutuhkan pertolongan dan pemenuhan kebutuhan.
Berikutnya, pertolongan Ilahi ini pun datang berturut-turut kepadanya. Ada yang berupa makanan untuk membuatnya kenyang dan menguatkan tubuhnya. Ada pula yang berupa makanan untuk ruhnya, seperti keimanan, ilmu, dan pengetahuan.
Pertolongan Ilahi yang pertama meliputi seluruh makhluk, mukmin maupun kafir, seperti halnya nikmat penciptaan. Namun, pertolongan kedua khusus untuk kaum mukmin saja.


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Al-Hikam 98

“Ada dua nikmat yang pasti dialami dan dirasakan oleh semua makhluk: nikmat penciptaan dan nikmat pemenuhan kebutuhan.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Kedua nikmat ini dirasakan oleh setiap yang berwujud. Setiap yang ada, awalnya tidak ada dan nihil. Nikmat penciptaan telah menghilangkan ketiadaan itu darinya sehingga ia menjadi ada. Tanpa nikmat itu, niscaya ia tetap tidak ada. Sesuatu yang tidak ada itu tentu tidak berharga.
Ketika keberadaannya membutuhkan pertolongan Ilahi agar sosok dan rangka fisiknya tetap ada, Allah membantunya dengan memberinya manfaat dan melindunginya dari bahaya. Oleh karena itu, nikmat penciptaan telah menghilangkan ketiadaan sebelumnya, sedangkan nikmat pemenuhan atau bantuan Ilahi dapat menghilangkan ketiadaan sesudahnya dan menggantinya dengan wujud yang berkesinambungan.
Tanpa nikmat penciptaan, segala sesuatu tidak akan keluar dari ketiadaan menuju wujud. Ia akan tetap ma’dum (tidak ada). Kemudian, tanpa nikmat pemenuhan dan bantuan Allah, wujud segala yang ada tidak akan sempurna. Ia tidak akan kekal, bahkan ia akan cepat rusak dan luluh lantak dalam waktu yang singkat. Semuanya berlaku pada seluruh makhluk, yang tinggi maupun yang rendah.


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Sabtu, 08 Agustus 2015

Al-Hikam 97

“Maksiat yang melahirkan rasa hina dan kekurangan lebih baik daripada ketaatan yang melahirkan rasa bangga dan kesombongan.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Tak ragu bahwa kehinaan dan kekurangan termasuk sifat-sifat ‘ubudiyah (kehambaan seorang manusia). Memiliki kedua sifat ini dapat mengantarkan seseorang ke hadirat Ilahi. Sementara itu, sombong dan angkuh merupakan sifat-sifat rububiyah-Nya yang hanya layak dimiliki oleh Allah. Sifat ini dapat membuat seseorang rendah hina, dan tidak diterima.
Abu Madyan berkata, “Kekalahan seorang pemaksiat lebih baik daripada kemenangan seorang yang taat.”


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Al-Hikam 96

“Adakalanya Dia membukakan pintu ketaatan untukmu, namun tidak membukakan pintu penerimaan. Adakalanya Dia menetapkanmu berbuat dosa, namun ternyata dosa itu menjadi sebab sampainya dirimu kepada-Nya.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Hal itu dikarenakan, ketaatan terkadang disertai pula dengan kekurangan-kekurangan yang merusak keikhlasan, seperti sifat ‘ujub, sikap bergantung pada ketaatan itu, dan kebiasaan merendahkan orang yang tidak melakukan ketaatan. Semua keburukan itu menghambat ketaatanmu untuk diterima Allah.
Di sisi lain, dosa terkadang juga diikuti dengan permohonan perlindungan kepada Allah dan maaf dari-Nya, penghinaan terhadap diri sendiri, dan pengagungan orang yang tidak melakukannya. Oleh karena itu, dosa bisa menjadi sumber pengampunan Allah untuknya dan sampainya ia ke hadirat-Nya.
Atas dasar itu, seorang hamba tidak patut melihat penampilan lahir segala sesuatu, tetapi hendaknya ia melihat kepada hakikat dan intinya sehingga jika ia sedang taat, ia akan takut. Namun, jika ia sedang bermaksiat, ia tetap berharap.


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Al-Hikam 95

“Yang membuatmu kecewa ketika tidak diberi adalah karena engkau tidak memahami hikmah Allah di dalamnya.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Bila kau merasa kecewa dan sedih karena tidak diberi oleh-Nya, itu artinya, kau tidak memahami hikmah mengapa Allah tidak memberimu. Sekiranya Allah memberimu pemahaman, niscaya kau akan menikmati kondisimu itu. Bila kau paham mengapa kau tidak diberi, tentu kau akan sadar bahwa dengan penolakan-Nya itu, Dia ingin membimbingmu menuju pintu-Nya dan membuatmu bergantung kepada-Nya sehingga kau menjadi salah seorang yang dicintai-Nya. Jika Allah mencintai seorang hamba-Nya, Dia akan melindunginya dari perkara-perkara duniawi. Kau juga akan memahami bahwa Allah mendorongmu untuk menempuh jalur para muqarrabin.
Dikisahkan bahwa  Fudhail berdoa, “Ya Tuhanku, Engkau buat aku dan keluargaku lapar. Engkau buat aku dan keluargaku telanjang, tak memiliki pakaian. Engkau lakukan ini hanya untuk hamba-hambaMu yang khusus. Dengan cara apa lagi aku memohon kebaikan ini dari-Mu?”
Bila kau paham mengapa kau tidak diberi, kau tentu sadar bahwa dunia ini fana dan kenikmatannya akan sirna sehingga kau keluar dari sana dengan membawa bekalmu untuk akhirat kelak. Bila kau paham mengapa kau tidak diberi, tentu kau akan sadar bahwa penolakan Allah itu adalah karunia dari-Nya.


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Al-Hikam 94

“Ketika Dia memberimu, Dia mempersaksikan kebaikan-Nya. Ketika Dia tidak memberimu, Dia memperlihatkan kuasa-Nya. Pada semua itu, Dia memperkenalkan diri kepadamu dan mendatangimu lewat kelembutan-Nya.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Ketika memberimu, Allah menampakkan sifat-sifat kebaikan-Nya, berupa kemuliaan, kemurahan, kebaikan, kelembutan, kasih sayang, dan sebagainya. Ketika Dia menolak memberimu, Dia menampakkan sifat-sifat kuasa-Nya yang mengandung keperkasaan, keunggulan, paksaan, kesombongan, kekerasan, dan ketidakbutuhan-Nya. Dalam dua kondisi itu, Allah mendekatimu dan menghendakimu untuk mengenali-Nya.
Kita pun demikian. Bila ingin dikena orang lain, kita bisa memberi pemberian kepada orang itu, bisa juga menyiksanya. Kedua cara tersebut menjadi sebab kita dikenal orang lain.
Maka pahamilah, dengan kedua cara itu, Allah mendekatimu. Karena pengetahuanmu tentang sifat-sifat kebaikan dan kuasa-Nya merupakan karunia dan kasih sayang terbesar Allah untukmu. Oleh sebab itu, kau harus mensyukurinya.
Kesimpulannya, yang dituntut dari para hamba adalah agar mereka mengenali Tuhannya melalui sifat-sifat dan nama-nama baik-Nya. Tak ada jalan lain untuk mengenali-Nya, kecuali Allah sendiri yang mengenalkan diri-Nya kepada mereka.
Caranya, bisa dengan menurunkan musibah-musibah dan cobaan-cobaanNya, bisa pula dengan menganugerahkan pemberian-pemberianNya yang sesuai atau berbeda dengan keinginan mereka. Siapa yang mengenal Tuhannya dengan baik, ia tidak akan terlena oleh kepentingan diri sendiri. Ia tidak akan membedakan antara pemberian dan penolakan Allah karena masing-masing merupakan jalan yang membawanya menuju makrifat tentang sifat Allah, baik itu yang berhubungan dengan sifat-sifat baik-Nya maupun dengan sifat-sifat kuasa-Nya.


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Al-Hikam 93

“Siapa yang beribadah karena mengharap sesuatu dari Allah atau untuk menghindari hukuman-Nya berarti belum menunaikan hak-hak sifat-Nya.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Hal itu dikarenakan, ia mengharap pahala dari-Nya atau menghindari hukuman yang akan dijatuhkan-Nya di hari akhir. Di sini, ia hanya ingin mendapat keuntungan pribadinya, berupa pahala atau terbebas dari siksa. Lain halnya jika ia beribadah kepada-Nya untuk mengagungkan dan memuliakan-Nya, serta menunaikan sifat-sifat terpuji-Nya yang tak seorangpun menandinginya. Saat itu, berarti ia telah melaksanakan hak sifat-sifat-Nya.
Allah swt. telah mewahyukan kepada Daud as., “Orang yang paling Kucintai ialah yang menyembah-Ku tanpa keinginan apa-apa, tetapi hanya ingin menunaikan hak-hak rububiyah-Ku.”
Dalam hadis disebutkan, “Janganlah seorang dari kalian menjadi seperti hamba yang buruk; jika takut barulah ia bekerja. Jangan pula menjadi seperti seorang pekerja yang buruk; jika tidak diberi upah, tidak mau bekerja.”


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)