Sabtu, 28 November 2015

Alhikam 109 (Buku Kedua)

“Tafakkur itu ada dua macam: tafakkur yang timbul dari pembenaran atau iman dan tafakkur yang timbul dari penyaksian atau penglihatan. Yang pertama milik mereka yang bisa mengambil pelajaran, sedangkan yang kedua milik mereka yang menyaksikan dan melihat dengan mata hati.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Tafakkur maknanya petualangan hati di medan makhluk Allah swt. Tafakkur ada dua macam. Pertama, tafakkur ahli iman yang bersumber dari pokok keimanannya. Tafakkur ini bertujuan untuk naik ke kedudukan tinggi dan menambah keyakinan. Oleh sebab itu, tafakkur ini disebut dengan fikrat at-taraqqi (tafakkur untuk naik). Tafakkur semaacam ini milik para salikun.
Kedua, tafakkur yang bersumber dari penglihatan dan pandangan. Tafakkur ini disebut dengan fikrat at-tadalli (tafakkur untuk turun). Tafakkur ini milik para majdzubun.
Tafakkur pertama milik orang-orang yang bisa mengambil pelajaran, yakni orang-orang yang menyimpulkan bahwa keberadaan akibat (makhluk) dilahirkan oleh sebab (Khalik). Mereka adalah para salikun saat mengalami taraqqi (naik ke atas) karena pikiran mereka bersumber dari pembenaran dan iman.
Adapun tafakkur kedua milik orang-orang yang menyimpulkan bahwa keberadaan sebab (Khalik) adalah yang melahirkan akibat (makhluk). Mereka adalah para majdzubun saat mereka mengalami tadalli (turun ke bawah). Pikiran mereka bersumber dari penglihatan dan pandangan mata batin. Pikiran ini diperuntukkan bagi orang-orang yang dikehendaki Allah agar ahwal mereka semakin sempurna. Jika tidak, sebagian, bahkan mayoritas majdzub akan tetap terpaku dalam kondisinya dan tak akan bangkit. Adapun selain mereka, yakni orang-orang awam, tafakkur mereka tak lain hanya untuk mendapatkan pembenaran dan keimanan, bukan untuk menambah pembenaran dan keimanan.


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Alhikam 108 (Buku Kedua)

“Tafakkur adalah lentera hati. Jika lenyap, hati pun gelap.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Tafakkur seumpama lentera atau lampu yang menerangi kegelapan. Dengan cahaya yang terpancar dari lentera itu, hakikat dan kebenaran segala sesuatu akan tampak sehingga yang benar tampak benar dan yang batil tampak batil. Dengan tafakkur, kebesaran dan keagungan Allah akan dikenali dan dilihat. Dengan tafakkur juga, bencana-bencana dan cacat-cacat jiwa, tipuan musuh, dan tipuan dunia dapat dideteksi secara dini. Dengan tafakkur pula, cara-cara untuk menghindari semua tipuan itu bisa dipelajari.
Jika tafakkur sirna di hati, hati tak akan bercahaya. Hati akan hampa dari pikiran dan cahaya, seumpama sebuah rumah yang gelap gulita. Ketika itu, yang ada di hati hanyalah kebodohan dan tipu daya.


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Alhikam 107 (Buku Kedua)

“Tafakkur adalah petualangan hati di medan ciptaan Allah.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Tafakkur adalah perjalanan hati di ranah kemakhlukan atau di medan makhluk dan ciptaan Allah, berupa langit, bumi, dan seluruh isinya. Dengan kata lain, tafakkur adalah perjalanan hati di tengah berbagai jenis makhluk dan ciptaan Allah untuk menghasilkan ilmu pengetahuan dan pelajaran serta tanda-tanda yang menghantarkan kepada makrifat Allah dan mengenali sifat-sifat kesempurnaan dan keindahan-Nya. Jika hati bertafakkur tentang wujud makhluk, ia akan dituntun kepada wujud Sang Pencipta. Inilah tafakkurnya orang-orang awam.
Jika hati bertafakkur tentang kebaikan dan buahnya – berupa pahala dan kedekatan dengan Yang MahaMulia – ia akan terdorong untuk melaksanakan kebaikan karena berharap mendapatkan pahala itu. Jika hati berpikir tentang keburukan dan buahnya – berupa azab – ia akan terdorong meninggalkan keburukan dan tidak mau mendekatinya. Inilah tafakkurnya orang-orang abid.
Apabila hati bertafakkur tentang kefanaan dan ketidakmampuan dunia untuk memenuhi semua keinginan, ia akan bertambah zuhud dan meninggalkannya. Inilah tafakkurnya para zahid.
Bila hati bertafakkur tentang nikmat dan karunia Allah, kecintaannya terhadap Sang Pemberi nikmat akan semakin besar. Inilah tafakkurnya orang-orang ‘arif.
Dalam bertafakkur, yang boleh dipikirkan hanyalah makhluk Allah, bukan dzat dan hakikat-Nya karena berpikir tentang dzat Allah dilarang. Rasulullah saw. bersabda, “Berpikirlah tentang ciptaan-Nya. Jangan berpikir tentang Khalik karena kalian takkan sanggup memperkirakan-Nya.


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Alhikam 106 (Buku Kedua)

“Sungguh amat disayangkan bila kau terbebas dari kesibukan, namun tak juga menghadap kepada-Nya atau bila kau hanya mendapat sedikit rintangan, tetapi tak juga beranjak menuju-Nya.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Kondisi di atas terjadi akibat tidak adanya taufik dan bantuan Allah. Sungguh amat disayangkan bila kau terbebas dari kesibukan duniawi, misalnya kau telah memiliki harta duniawi yang cukup, namun kau tidak juga sibuk menghadap Allah dengan sesuatu yang bisa mendekatkanmu kepada-Nya. Sungguh amat disayangkan!
Amat disayangkan pula jika kau hanya mendapatkan sedikit rintangan dalam menuju Allah, misalnya kau sudah memiliki sandang pangan meski agak kurang, namun kau tidak juga menyibukkan diri dengan sesuatu yang mendekatkan dirimu kepada-Nya.
Bagaimana halnya dengan orang yang tidak memiliki harta duniwi yang cukup dan masih membutuhkan usaha dan pekerjaan? Apakah ia dikategorikan sebagai orang yang merugi bila ia sibuk dengan usaha dan pekerjaannya sehingga tidak menghadap Allah dan tidak segera berangkat menuju-Nya? Ya, tetapi ia hanya mendapat separuh kerugian karena menghadap Allah dan berjalan menuju-Nya amat dituntut dari seluruh makhluk. Allah swt. berfirman, “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, kecuali untuk menyembah-Ku.”
Oleh karena itu, yang wajib bagi setiap orang adalah menyingkirkan segala rintangan, meninggalkan kesibukannya, dan segera menghadap Allah swt. Sebuah nasehat mengatakan, “Berjalanlah menuju Allah meski harus tertatih-tatih. Jangan menunggu masa sehat karena menunggu masa sehat sama dengan pengangguran.”
Allah swt. berfirman, “Berangkatlah kamu, baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS.at-Taubah[9]: 41)


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Alhikam 105 (Buku Kedua)

“Siapa yang usianya diberkahi maka dalam waktu singkat, ia mendapat anugerah Allah yang tidak bisa diungkap dengan kata-kata dan tidak bisa dijangkau dengan isyarat.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Siapa yang ingin Allah berkahi usianya, Dia akan memberinya kedekatan dengan-Nya sehingga dengan mudah dan dalam waktu singkat, ia akan mendapatkan anugerah Allah yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata dan tak bisa dijangkau dengan isyarat.
Jika Allah ingin memberkati umur seorang wali-Nya, Dia akan memberinya kecerdasan dan kewaspadaan yang tinggi (kesadaran) sehingga ia terdorong untuk selalu menggunakan waktunya dengan baik. Dengan begitu, ia akan tergerak untuk selalu melakukan amal-amal saleh setiap saat. Dalam waktu singkat, ia akan mendapatkan karunia Allah yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata dan isyarat karena anugerah itu terlampau banyak dan mulia baginya.
Ungkapan  dan isyarat tak mampu melukisnya, mengingat betapa melimpah dan jernihnya anugerah itu. Dalam satu bulan, misalnya, ia akan meraih kedudukan tinggi yang tak pernah dialami oleh seseorang dalam seribu bulan. Seperti halnya orang yang mendapatkan anugerah malam lailatul qadar. Itu lebih baik baginya daripada beramal selama seribu bulan.
Seorang berkata, “Setiap malam bagi seorang ‘arif sama dengan malam lailatul qadar.”
Abu al-Abbas al-Mursi berkata, “Waktu kami seluruhnya adalah lailatul qadar.”
Ada yang mengatakan bahwa inilah makna dari ungkapan, “Kebaikan terus bertambah sepanjang umur.”


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Alhikam 104 (Buku Kedua)

“Tidak sedikit umur yang panjang, namun kurang manfaat. Tidak sedikit pula umur yang pendek, namun penuh manfaat.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Banyak orang yang berumur panjang, tetapi manfaatnya sedikit, seperti halnya umur orang-orang yang lalai dari Allah dan hanya sibuk memikirkan nafsu syahwatnya. Walaupun umur mereka panjang, hakikatnya pendek karena kurang bermanfaat.
Banyak pula orang yang berumur pendek, tetapi manfaatnya banyak. Sekalipun umur tersebut terlihat pendek, hakikatnya amat panjang karena banyak manfaatnya. Itulah makna keberkahan dalam umur.
Faedah umur tidak mesti sejalan dengan panjangnya umur karena terkadang pemilik umur pendek mendapatkan manfaat dan faedah lebih banyak daripada yang umurnya lebih panjang.


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Alhikam 103 (Buku Kedua)

“Allah memuliakanmu dengan tiga jenis kemuliaan. Pertama, Dia menjadikanmu berzikir mengingat-Nya. Andai tidak ada karunia-Nya, tentu kau tidak layak untuk berzikir mengingat-Nya. Kedua, Dia menjadikanmu dikenal lantaran Dia menisbatkan zikir tadi padamu. Ketiga, Dia menjadikanmu disebut-sebut di sisi-Nya sehingga nikmat-Nya padamu menjadi sempurna.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Tuhan – yang membuatmu menyaksikan-Nya, lalu menyuruhmu menyaksikan-Nya, – telah memuliakanmu sehingga kau selalu berzikir kepada-Nya dengan lisanmu, beribadah kepada-Nya, dan mendekati-Nya dengan hati dan batinmu. Allah memuliakanmu dengan tiga karamah yang dengannya kau menghimpun semua sebab kebanggaan dan sifat-sifat terpuji.
Pertama, Allah menjadikanmu berzikir kepada-Nya dengan lisanmu dan dengan ibadah lahir dan batinmu. Sekiranya bukan karena karunia-Nya, niscaya kau tidak akan layak disebut-sebut Allah karena kau tercipta untuk selalu kurang, malas, dan enggan. Oleh karena itu, zikirmu kepada-Nya adalah karunia dan anugerah-Nya yang besar kepadamu. Memangnya, siapa dirimu sampai dianggap layak untuk berzikir kepada-Nya, taat, dan bergantung kepada-Nya?
Kedua, Allah menjadikanmu dikenal orang, yakni kau akan disebut-sebut manusia sebagai wali Allah, makhluk pilihan-Nya, dan ahli zikir kepada-Nya. Di sini Allah akan memasukkan keistimewaan-Nya pada dirimu, yaitu berupa cahaya-cahaya zikir yang menerangi lahir dan batinmu sehingga kau memiliki keistimewaan itu dan menjadi makhluk pilihan-Nya. Keistimewaan itulah yang mendorongmu untuk selalu berzikir dan mengingat-Nya.
Orang yang mendapatkan sedikit pemberian dari seorang raja saja biasanya terdorong untuk selalu mengingat kebaikan raja tersebut. Ia akan bahagia, selalu mengingatnya, dan selalu menjaga nama baiknya. Lantas, bagaimana sekiranya kau mendapatkan karunia agung dari Tuhan, Raja seluruh alam semesta, sehingga kau selalu disebut-sebut di sisi-Nya dan dikenal di tengah-tengah kaum mukmin hingga akhir zaman?
Tengok misalnya para ulama dan orang-orang saleh yang banyak berzikir kepada Allah. Saat mereka meninggal, pujian terhadap mereka terus terngiang. Namanya selalu disebut orang dan tak sedikit yang mendo’akan.
Ketiga, Allah menjadikanmu disebut-sebut di sisi-Nya. Kondisi ini sesuai hadis qudsi, “Siapa yang mengingat-Ku dalam dirinya, Aku pun akan selalu mengingatnya dalam diri-Ku. Siapa yang berzikir mengingat-Ku di suatu tempat, Aku akan mengingatnya di suatu tempat yang lebih baik daripada tempat itu.” Allah menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu dengan menyebut-nyebut namamu di sisi-Nya.
Allah swt. berfirman, “Dan sesungguhnya mengingat Allah (zikrullah) adalah lebih besar.” (QS.al-Ankabut[29]: 45). Ada yang berpendapat bahwa makna zikrullah pada ayat tesebut adalah “ingatan Allah”, bukan “mengingat Allah”. Artinya, ketika hamba mengingat-ingat nama Allah, Allah akan jauh lebih mengingat-ingat hamba tersebut.


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Alhikam 102 (Buku Kedua)

“Allah membuatmu menyaksikan-Nya sebelum memintamu menyaksikan-Nya. Maka dari itu, seluruh anggota tubuh pun mengakui ketuhanan-Nya dan semua hati serta relung batin menyadari keesaan-Nya.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Allah menampakkan diri-Nya dalam hatimu. Dengan begitu, kau bisa menyaksikan-Nya berdasarkan kadar diri dan kedudukanmu sebelum Dia memintamu untuk bersaksi atas keagungan-Nya dengan zikir dan ibadahmu, karena zikir dan ibadah adalah sebentuk kesaksianmu atas keagungan Tuhan yang patut disembah dan diingat, serta pengakuan atas keesaan-Nya. Oleh karena itu, semua anggota tubuhmu akan berbicara tentang ketuhanan-Nya atau berbicara tentang segala hal yang menunjukkan ketuhanan Allah swt, sedangkan hati dan batin akan menyadari keesaan-Nya.
Kemungkinan maknanya adalah, di alam gaib Allah swt. membukakan hakikat ketuhanan, keesaan, dan kepengaturan-Nya untuk para arwah. Di alam nyata, Dia juga menampakkannya dengan cara memasukkan hakikat itu ke dalam jasad-jasad. Selanjutnya, melalui lisan para nabi-Nya, para jasad itu dituntut untuk bersaksi atas ketuhanan-Nya maka semua jasad pun bersaksi dengan lisan dan ucapannya. Kesaksian itu keluar dari jasad ketika ia dituntut untuk bersaksi berdasarkan apa yang disaksikannya.
Makna ucapan Ibnu Atha’illah, “Allah membuatmu menyaksikan-Nya” adalah Allah menampakkan keesaan-Nya di alam arwah. “Sebelum memintamu untuk menyaksikan-Nya” bermakna, Dia memintamu untuk bersaksi setelah menempatkan keesaan-Nya di dalam jasad sehingga jasad berbicara tentang ketuhanan-Nya dengan lisan dan ucapan. Maksudnya, ketika Allah meminta jasad melalui lisan para nabinya untuk bersaksi, jasad pun angkat berbicara dan menyaksikan keesaan-Nya.


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Alhikam 101 (Buku Kedua)

“Zikir yang terlihat bersumber dari penyaksian batin dan hasil berpikir.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Zikir yang lahir tak lain bersumber dari penyaksian terhadap Tuhan secara batin dan hasil tafakkur tentang-Nya. Masing-masing dari majdzub dan salik tidak mengucapkan zikir secara lahir, kecuali setelah menyaksikan Tuhan secara batin dan memikirkan-Nya. Seorang majdzub akan mengalami hal itu, sedangkan salik tidak mengalaminya karena tebalnya sifat kemanusiaannya. Meski demikian,  ia tetap tidak kehilangan cahaya secara total. Jika tidak mendapatkan cahaya tersebut, tentu ia tidak akan berzikir. Seperti telah disebutkan di awal, “Sekiranya tidak ada karunia Ilahi, tidak aka nada zikir,” atau, “Sekiranya tidak ada tajalli (penampakan Ilahi), tidak akan ada tahalli (penyerapan sifat-Nya).”
Maksud zikir di sini adalah seluruh amal lahir. Disebut zikir karena zikir adalah ruh amal-amal tersebut karena semua amal mengandung zikir (mengingat Allah). Masing-masing dari penyaksian dan tafakkur untuk melakukan zikir dijalani oleh setiap majdzub dan salik.


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Alhikam 100 (Buku Kedua)

“Ada orang yang berzikir agar terang hatinya, lalu dia pun menjadi pezikir. Ada orang yang terang hatinya, lalu dia pun menjadi pezikir. Ada pula yang zikir dan cahayanya sama sehingga dengan zikirnya itu ia mendapat petunjuk dan dengan cahayanya itu ia melangkah.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Ada orang yang berzikir agar terang hatinya. Mereka adalah para salikun. Kemudian, ada orang yang terang hatinya, lalu ia berzikir. Mereka itulah para majdzubun. Baginya berzikir seakan bernafas seperti biasa, bahkan lebih ringan lagi. Beda halnya dengan golongan pertama (salikun).
Seperti telah dijelaskan, salik lebih sempurna daripada majdzub karena salik benar-benar mengetahui jalan menuju Allah swt. Mereka mendapatkan karamah dengan perjuangan dan penderitaan, sedangkan majdzub tidak demikian karena mereka tidak pernah meniti jalan menuju Allah swt. Mereka mendapat karamah Allah karena Allah yang menarik mereka untuk didekatkan kepada-Nya. Seperti itulah kondisi mayoritas majdzub. Jika tidak, sebagian dari mereka mungkin akan meniti jalan yang dipersingkat oleh pertolongan Allah untuknya sehingga ia menempuhnya dengan cepat. Di sini mungkin ia tetap menempuh jalan, tetapi ia tidak mengalami liku-likunya dan menapaki panjang jaraknya.


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Alhikam 99 (Buku Kedua)

“Adanya kaum yang cahayanya mendahului zikir. Ada kaum yang zikirnya mendahului cahaya. Ada kaum yang zikir dan cahayanya berada dalam posisi yang sama. Ada pula kaum yang tidak memiliki zikir dan cahaya, na’udzu billah.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Kaum yang cahayanya mendahului zikir adalah kaum majdzubun (orang-orang yang didekatkan Allah kepada-Nya) dan muradun (orang-orang yang dikehendaki Allah untuk dekat dengan-Nya). Ketika mereka menghadapi cahaya, terdengarlah pada mereka zikir-zikir tanpa beban. Zikir-zikir itu pun dengan mudah memengaruhi mereka.
Ada pula kaum yang zikirnya mendahului cahaya. Mereka adalah para muridun (yang menghendaki kedekatan dengan Allah) dan salikun (yang meniti jalan menuju Allah). Mereka adalah orang-orang yang terbiasa ber-mujahadah dan bersusah payah dalam beribadah. Mereka melakukan zikir dengan penuh perjuangan. Dengan zikir itu, mereka bisa mendapatkan cahaya.
Golongan pertama, mereka meraih ketaatan kepada-Nya dengan bantuan karamah Allah. kondisi mereka ini sesuai dengan firman Allah, “Dan Allah menentukan siapa yang dikehendaki-Nya (untuk diberi) rahmat-Nya; dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS.al-Baqarah[2]: 105)
Sementara itu, golongan kedua meraih karamah Allah dengan ketaatan kepada-Nya. Kondisi mereka ini sesuai dengan firman-Nya, “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS.al-‘Ankabut[29]: 69)


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Alhikam 98 (Buku Kedua)

“Bagaimana kau dapat menuntut imbalan atas amal, padahal Allah yang menyedekahkan amal itu kepadamu? Bagaimana kau dapat meminta ganjaran atas keikhlasan, padahal Allah yang menghadiahkan keikhlasan itu kepadamu?”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Bagaimana kau meminta pahala atas amal yang telah Allah sedekahkan untukmu? Tentu sikap ini tidak layak bagimu karena manusia tidak meminta imbalan dari orang lain, kecuali ia mengerjakan satu pekerjaan yang manfaatnya kembali kepada orang itu. Di sini sifat tersebut tidak ada karena manfaat amal itu hanya kembali kepada dirimu, bukan kepada Allah swt. Dia sama sekali tidak membutuhkan dirimu dan amalmu.
Selain diberikan atas dasar amal, pahala juga diberikan berdasarkan ketulusan dan keikhlasan di dalam amal itu. Dalam beramal pun, kau tidak layak meminta balasan atas ketulusanmu karena ketulusan itu adalah hadiah Allah untukmu. Oleh sebab itu, Ibnu Atha’illah berkata, “Bagaimana kau dapat meminta ganjaran atas keikhlasan, padahal Allah yang menghadiahkan keikhlasan itu kepadamu?”
Di sini Ibnu Atha’illah menggunakan lafal “sedekah dan hadiah” sebagai pengingat atas hal yang disebutkan, yaitu bahwa amal dan ikhlas di dalamnya tak lain manfaatnya untuk dirimu sendiri. Oleh sebab itu, tak patut dan amat buruk bagimu jika meminta imbalan atau pahala atas amal itu. Maka dari itu, ungkapan hikmah di atas menggunakan lafal pertanyaan “bagaimana” yang menunjukkan pertanyaan, tetapi berkonotasi cibiran.
Dalam hikmah di atas, untuk mengungkapkan amal lahir, Ibnu Atha’illah menggunakan lafal “menyedekahkan”, sedangkan untuk mengungkapkan keikhlasan yang merupakan amal batin dan poros diterimanya amal lahir, beliau menggunakan lafal “menghadiahkan”. Hal itu dimaksudkan untuk menjelaskan perbedaan antara keduanya (amal dan keikhlasan) dalam hal kemuliaan, seperti perbedaan antara sedekah dan hadiah. Sedekah diberikan kepada kaum fakir, sedangkan hadiah diberikan kepada orang-orang kaya sehingga hadiah lebih menunjukkan kehormatan orang yang diberi hadiah itu.


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Alhikam 97 (Buku Kedua)

“Buah ketaatan yang dirasakan di dunia adalah kabar gembira bagi orang-orang yang beramal tentang adanya balasan ketaatan di akhirat.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Buah ketaatan yang dimaksud adalah cahaya yang masuk ke dalam hati dan memancar dalam lahir mereka yang beramal. Buah ketaatan yang bisa dirasakan langsung di dunia merupakan kabar gembira dari Allah tentang adanya balasan ketaatan itu di akhirat. Ini juga pertanda bahwa amal itu diterima Allah swt., sebagaimana dalam bait hikmahnya, “Buah amal di dunia menunjukkan adanya penerimaan Allah.”
Namun demikian, hikmah ini tidak menegaskan bahwa amal boleh ditujukan untuk mendapatkan pahala dan bahwa tujuan tersebut adalah mulia.


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Alhikam 96 (Buku Kedua)

“Kadar cahaya qalbu dan rahasia jiwa hanya diketahui dalam selubung malakut, sebagaimana cahaya langit hanya tampak di alam dunia ini.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Cahaya qalbu atau rahasia batin ialah ilmu pengetahuan laduni dan cahaya kebenaran yang terkandung di dalamnya. Cahaya qalbu ini tidak diketahui, kecuali dalam selubung malakut-Nya yang gaib dari kita, yaitu alam akhirat. Maka dari itu, siapa beriman kepada yang gaib dan berupaya melembutkan jiwanya sampai mendapatkan cahaya itu, ia dapat meraih keuntungan yang banyak di sana walaupun di dunia ia terhina dan terabaikan.


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Alhikam 95 (Buku Kedua)

“Dia menunjukkan wujud nama-Nya lewat keberadaan makhluk-Nya. Dia menunjukkan sifat-sifat-Nya lewat keberadaan nama-Nya. Dia menunjukkan wujud dzat-Nya lewat keberadaan sifat-sifat-Nya. Pasalnya, tidak mungkin sifat tersebut ada dengan sendirinya. Orang-orang yang ditarik kepada-Nya (majdzub) akan diperlihatkan kepada kesempurnaan dzat-Nya, kemudian dibawa untuk menyaksikan sifat-Nya, lalu digiring untuk bergantung kepada nama-Nya, selanjutnya dikembalikan lagi untuk menyaksikan makhluk-Nya. Adapun para salik, mereka mengalami kondisi sebaliknya. Akhir perjalanan para salik adalah awal perjalanan kaum majdzub (yang ditarik kepada-Nya). Sementara itu, awal perjalanan salik adalah akhir perjalanan kaum majdzub. Hal itu tidak berarti bahwa keduanya sama. Bisa saja keduanya bertemu di jalan. Yang satu sedang naik, sedangkan yang lain sedang turun.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Allah menunjukkan asma’-Nya lewat keberadaan jejak-jejak atau ciptaan-Nya yang baik dan sempurna. Semua ciptaan tidak akan terwujud, kecuali dari Dzat Yang MahaMampu, MahaBerkehendak, dan MahaMengetahui.
Dia juga menunjukkan sifat-sifat-Nya seperti qudrah (MahaKuasa), iradah (MahaBerkehendak), dan ‘ilmu (MahaMengetahui) lewat keberadaan asma’-Nya. Lewat sifat-sifat-Nya itu, Dia menunjukkan wujud dzat-Nya karena tak mungkin sifat ada sendiri tanpa sosok yang memiliki sifat itu.
Inilah kondisi para salik. Hal pertama yang tampak bagi mereka adalah jejak-jejak Allah, yaitu berupa perbuatan-Nya (af’al). Mereka kemudian menjadikan perbuatan-Nya itu sebagai bukti adanya asma’ Allah. Asma’ tersebut menunjukkan adanya sifat-sifat-Nya. Dengan sifat-sifat itu pula, mereka membuktikan adanya dzat Allah. Merekalah yang berkata, “Kami tidak pernah melihat sesuatu, kecuali setelah itu kami melihat Allah padanya.”
Sebaliknya dengan orang-orang . Hal itu diisyaratkan oleh Ibnu Atha’illah melalui butiran hikmah sebagai berikut:
“Orang-orang yang ditarik kepada-Nya (majdzub) akan diperlihatkan kepada kesempurnaan dzat-Nya,” yaitu agar mereka melihatnya dengan mata kepala sendiri dan perasaannya.
1.majdzub adalah orang-orang yang didekatkan Allah kepada-Nya sehingga ia mendapatkan keistimewaan tanpa bersusah payah menempuh berbagai maqam untuk meraihnya. Adapun salik adalah orang-orang yang baru mendapatkan keistimewaan dari Allah setelah bersusah payah meniti jalan menuju-Nya.
“Kemudian, mereka dibawa untuk menyaksikan sifat-Nya,” bermakna melihat hubungan sifat-sifat itu dengan dzat-Nya.
“Lalu digiring untuk bergantung kepada nama-Nya, selanjutnya dikembalikan lagi untuk menyaksikan makhluk-Nya,” misalnya dengan menyaksikan hubungan antara asma’ Allah dengan makhluk. Karena makhluk itu sendiri bersumber dari asma’ Allah, mereka akan dikembalikan lagi untuk menyaksikan makhluk-Nya.
Hal pertama yang tampak bagi kaum majdzub adalah hakikat Dzat Yang Suci, lalu mereka ditarik dari sana untuk melihat sifat-sifat-Nya. Selanjutnya, mereka kembali bergantung kepada asma’-Nya. Setelah itu, mereka diturunkan lagi untuk melihat makhluk-makhluk-Nya. Mereka itulah yang berkata, “Kami tidak melihat sesuatu, kecuali kami sebelumnya melihat Allah.”
Jika akhir perjalanan para majdzub adalah melihat makhluk-makhluk Allah setelah melihat Allah, akhir perjalanan para salik berbeda. Di akhir perjalanannya, para salik menyaksikan Dzat suci-Nya dan mengungkap kesempurnaan-Nya setelah sebelumnya melihat makhluk-Nya.
Dengan demikian, awal perjalanan para salik adalah akhir perjalanan kaum majdzub, yaitu melihat makhluk dan menyaksikan ketergantungannya kepada Allah. Itu merupakan akhir perjalanan kaum majdzub. Namun demikian, tidak berarti kedua golongan itu sama karena di akhir perjalanannya, meski mereka juga akan ditarik Allah (jadzab), para salik harus terlebih dahulu memiliki keteguhan dan ilmu tentang kondisi perjalanannya serta pengetahuan tentang hambatan jiwa.
Mereka tidak akan ditarik Allah, kecuali setelah melalui perjuangan dan kesulitan. Lain halnya dengan awal perjalanan para majdzub, mereka tidak perlu memiliki keteguhan. Oleh sebab itu, di awal perjalanannya, mereka kerap mengalami ghaibah (ketidaksadaran) dan tidak mengetahui apa yang mereka lakukan. Terkadang mereka meninggalkan kewajiban dan melakukan kemungkaran-kemungkaran syar’i. Namun, mereka tidak disiksa atas hal itu karena akal mereka, yang merupakan poros taklif, tengah tertutup oleh cahaya.
Di awal perjalanan para salik, mereka tidak menyaksikan kesempurnaan dzat, asma’, dan sifat-Nya. Lain halnya dengan akhir perjalanan para majdzub, mereka tidak mengalami kesadaran, kecuali setelah melihat kesempurnaan dzat, asma’, dan sifat-Nya.
Para salik beramal untuk meningkatkan diri mereka di jalan kefanaan dan kesirnaan. Sementara itu, para majdzub dipaksa berjalan untuk menuruni jalan keabadian dan kesadaran. Jika demikian, bisa saja keduanya bertemu di tengah jalan. Yang satu sedang naik dari makhluk menuju Khalik, sedangkan yang lain sedang turun dari Khalik menuju makhluk.
Mungkin keduanya bertemu dalam tajalli asma’ dan sifat-sifat-Nya, yakni masing-masing dari mereka menyaksikan asma’-Nya. Namun, seorang majdzub, jika berpindah dari situ, berarti ia berpindah kepada makhluk, sedangkan salik berpindah kepada sifat. Tentu salik lebih utama dari majdzub karena ia banyak mengambil manfaat dari perjalanannya. Lain halnya dengan majdzub, jika Allah menghendaki untuk menyempurnakan kondisinya, Allah akan membuatnya sadar.
Masing-masing dari ilmu salik dan majdzub bersumber dari perasaan walaupun prinsip ilmu salik lebih bersifat deduktif, sebagaimana yang disimpulkan dari ungkapan, “Dia menunjukkan wujud nama-Nya lewat keberadaan makhluk-Nya…”
Seorang majdzub, selama masih mengalami jadzab, tak layak untuk mendapat gelar “syekh” karena ia belum melewati berbagai maqam dan belum mengetahui berbagai petaka jiwa. Selain itu, ia masih sibuk menjalani satu kondisi sehingga melupakan kondisi lainnya.
Demikian pula seorang salik, jika ia belum mencapai taraf musyahadah dan tajalli, ia tidak layak mendapat gelar “syekh” karena ia belum sempurna. Yang layak mendapat gelar “syekh” hanyalah orang yang telah berhasil menghimpun keduanya, baik perjalanan suluk-nya lebih dahulu dari jadzab-nya maupun sebaliknya.
Terkadang seorang majdzub melewati berbagai maqam dengan cepat dan ia juga mengetahui barbagai petaka jiwa sehingga ia layak menjadi syekh meski harus tetap dengan kondisi jadzab-nya. Namun, ini terjadi pada beberapa orang majdzub saja, seperti sosok Sayyid Ahmad al-Badawi, bukan terjadi pada setiap majdzub.


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Alhikam 94 (Buku Kedua)

“Adanya keistimewaan tidak berarti lenyapnya sifat-sifat manusia. Keistimewaan tersebut ibarat sinar mentari siang. Ia tampak di cakrawala, padahal bukan bersumber dari cakrawala. Kadang kala mentari sifat-Nya terang di malam wujudmu. Kadang kala pula Dia mencabutnya kembali darimu dan mengembalikanmu pada batas semula. Siang tersebut bukan berasal darimu dan bukan pula menuju kepadamu. Namun, ia datang dari Allah untukmu.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Adanya kelebihan yang diberikan Allah kepadamu berupa kekuatan dan kemampuan melakukan apa saja terhadap semua benda dan mengungkap rahasianya tidak berarti hilangnya sifat kemanusiaanmu, seperti sifat tidak memiliki, lemah, tak berdaya, hina, dan bodoh. Sifat-sifat manusia itu merupakan hal yang bersifat inti dan pasti melekat pada diri setiap hamba.
Ibnu Atha’illah mengumpamakan kelebihan itu dengan mengatakan, “Keistimewaan itu ibarat sinar mentari siang hari.” Keistimewaan seumpama sinar yang amat panas dan terang benderang. Ia muncul di cakrawala langit, tetapi tidak bersumber dari cakrawala itu sendiri. Jika matahari siang muncul di cakrawala yang gelap gulita, kegelapan itu akan bersinar terang. Jika tenggelam, cakrawala akan kembali gelap seperti sedia kala. Hal itu dikarenakan, benderangnya cakrawala bukan merupakan sifat dasar cakrawala itu, melainkan hanyalah asupan dan pemberian. Tentu sifat-sifat asupan tidak bisa menghilangkan sifat-sifat dasar.
Seperti itulah sifat-sifat manusia yang ada pada dirimu, seperti kemiskinan, kelemahan, dan ketidakberdayaan, persis dengan keadaan di malam hari. Jika matahari muncul di malam hari atau jika Allah menampakkan diri-Nya pada dirimu dengan sifat-sifat kaya dan kuasa-Nya, dzatmu akan bersinar terang dengan kekayaan dan kekuasaan. Namun, apabila cahaya itu diambil lagi, dzatmu akan kembali seperti semula. Iniah yang diisayratkan Ibnu Atha’illah dengan ucapannya, “Kadang kala mentari sifat-Nya terang di malam wujudmu.”
Maksudnya, sifat-sifat Allah yang diumpamakan dengan matahari akan tampak pada sifat-sifat pribadimu yang diumpamakan dengan malam hari. Dengan demikian, keistimewaanmu akan tampak dan kau pun menjadi mampu dengan kuasa Allah, kuat dengan kekuatan Allah, dan tahu dengan ilmu Allah, dst. Jika Allah menampakkan dirinya padamu dengan sifat-sifat kuasa-Nya, kau akan memiliki kekuatan yang dapat menutupi kelemahanmu. Apabila Dia menampakkan diri-Nya padamu dengan sifat ilmu-Nya, kau akan memiliki ilmu yang menutupi kebodohanmu, dst.
Terkadang, Allah mencabut sifat-sifat-Nya kembali darimu dan mengembalikanmu seperti semula; lemah, tak berdaya, dan bodoh. Dengan begitu, keistimewaanmu menjadi tidak tampak. Oleh sebab itu, terkadang pada diri Rasulullah saw. tampak sifat-sifat kekuatan dan kemampuan sehingga tak heran jika beliau bisa memberi makan seribu orang dengan hanya satu sha’ gandum. Namun, sesekali beliau lemah dan tak berdaya sehingga beliau harus mengikat batu di perutnya demi menahan rasa lapar yang menderanya. Seperti itu pula yang dialami oleh para wali pewarisnya.
Keistimewaan yang tampak padamu bukan berasal dari dirimu sendiri, bukan sifat-sifat dasarmu. Ia adalah sifat asupan atau pemberian dari Yang Haq Allah swt. Jika Allah menghendaki, Dia akan mengabadikannya padamu. Jika Dia menginginkann sebaliknya, Dia akan menghilangkannya lagi.
Oleh sebab itu, pada waktu-waktu tertentu, para wali terlihat memiliki kekuatan. Namun, terkadang mereka lemah dan tak berdaya. Meski demikian, cahaya hati mereka dan rahasia batinnya tetap tidak hilang dan tidak tenggelam. Yang tenggelam dan hilang dari mereka hanyalah keistimewaan yang tampak pada lahir mereka.


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Alhikam 93 (Buku Kedua)

“Kau tunduk kepada alam selama belum melihat Penciptanya. Jika kau telah menyaksikan-Nya maka alam akan tunduk kepadamu.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Kau hanya akan terpaku pada alam dan bersandar kepadanya selama kau tidak melihat siapa pencipta alam itu. Jika kau sudah melihat Sang Pencipta di dalamnya, alam akan bersamamu. Dengan kata lain, kau tidak membutuhkannya, namun kau akan memilikinya. Alamlah yang akan membutuhkan dan melayanimu. Jika kau meminta sesuatu dari alam, permintaanmu akan cepat terwujud. Jika kau katakan kepada suatu benda alam, “Jadilah!”, niscaya ia akan terjadi dengan izin Allah.
Oleh karena itu, tak heran jika sebagian wali ada yang berkata kepada langit, “Turunkan hujanmu!” atau berkata kepada angin, “Bertiuplah!” maka angin itu pun bertiup dan awan menurunkan hujannya. Sebabnya adalah karen para wali merasa gaib dari alam dengan menyaksikan penciptanya. Dalam kondisi syuhud ini, seorang wali akan kehilangan indranya dan kehilangan kemanusiaannya, tetapi tidak mesti ia harus mengalami kefanaan.


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Alhikam 92 (Buku Kedua)

“Orang yang berada di alam ini dan masih belum mengetahui dunia gaib berarti terkungkung oleh sejumlah hal yang mengitarinya dan terkepung oleh kerangka dirinya.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Semua orang yang ada di dunia dan hatinya belum dibuka untuk menerima ilmu dan pengetahuan gaib berarti masih terbelenggu dan terpenjara oleh syahwat dan kenikmatannya, serta terikat oleh kebiasaannya, seperti makan, minum, dan berpakaian. Mereka juga terkurung oleh kerangka dirinya, yaitu syahwat dan kenikmatannya.


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Rabu, 25 November 2015

Alhikam 91 (Buku Kedua)

“Alam dapat menampungmu dari sisi fisik, tetapi ia tidak dapat menampungmu dari sisi ruh.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Alam, yaitu bumi yang kau huni, dapat menampungmu secara fisik karena fisikmu adalah bagian dari alam. Kemaslahatannya pun bergantung pada alam. Namun, alam tidak dapat menampungmu dari sisi ruhani karena ruh bukan berasal dari alam ini dan tidak sejenis dengan alam. Oleh karena itu, ruh tidak layak bergantung kepada sesuatu yang berasal dari alam ini. Ruh hanya layak bergantung kepada Allah swt.
Kesimpulannya, manusia adalah gabungan dari dua hal: jasad dan ruh. Antara jasad dengan alam terdapat kesesuaian dan kesamaan. Oleh karena itu, jasad pantas bergantung pada alam. Jika jasad mengonsumsi yang ada di alam ini, jasad akan mampu bertahan di alam ini. Jika tidak, ia akan binasa, sebagaimana yang telah ditetapkan sunnatullah. Namun, antara ruh dan alam tidak terdapat kesesuaian dan kesamaan. Oleh karena itu, ruh tidak layak bergantung pada alam. Ia hanya patut bergantung kepada Sang Pencipta alam, yaitu Allah swt.
Maka dari itu, kita harus berusaha menyempurnakan ruh dengan zikir-zikir dan olah batin agar semua kotoran kemanusiaannya hilang sehingga ia layak bergantung kepada Tuhan Yang MahaAgung. Adapun untuk jasad, kita tidak perlu memedulikan apa yang layak baginya karena Allah telah menjaminnya.
Dalam sebuah syair disebutkan:
Wahai pelayan tubuh, betapa kau menderita saat melayaninya.
Kau mengharap keuntungan dari sesuatu yang jelas merugikan.
Sebaiknya, kau memerhatikan ruh dan menyempurnakan kemuliaannya.
Dengan ruh, kau disebut manusia, bukan dengan jasad.


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)