Senin, 28 September 2015

Al-Hikam 157

“Dia menutup cahaya batin dengan tebalnya perbuatan lahir untuk memuliakannya, sehingga tidak menjadi murah lantaran mudah terlihat orang dan tidak diseru dengan lisan yang menyebutkan ketenarannya.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Allah menutup cahaya hati para wali-Nya dengan perbuatan lahir mereka dan profesi yang mereka geluti dalam kehidupan sehari-hari karena perbuatan lahir para wali itu dapat menghalangi orang lain untuk melihat cahaya hati mereka. Allah melakukan itu demi memuliakan cahaya batin sehingga tidak murah dan tidak tergoda oleh popularitas karena ia memiliki kedudukan tinggi dan rawan godaan. Allah memuliakannya agar ia tidak diobral karena mudah dilihat. Allah menjaganya dari ketenaran di antara makhluk agar tidak menyebabkan terhina di tengah mereka. Hal ini sudah dijelaskan Ibnu Atha’illah dalam hikmahnya, “Mahasuci Allah yang telah menutup rahasia keistimewaan dengan ditampakkannya sifat-sifat kemanusiaan.”
Allah menutup cahaya dan rahasia keistimewaan itu tak lain sebagai bentuk rahmat dan kasih sayang-Nya kepada kaum mukmin. Hal itu disebabkan, jika rahasia kewalian itu ditampakkan pada seseorang, niscaya orang itu akan dituntut untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban yang tak mampu dilakukannya. Jika ia kurang dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban itu, ia akan terjebak pada sesuatu yang dilarang.


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Al-Hikam 156

“Bisa jadi hati terhenti pada cahaya-cahaya, sebagaimana terhijabnya jiwa oleh gelapnya baying-bayang ciptaan.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Bisa jadi hati tertutup oleh cahaya-cahaya dan terhenti dari perjalanannya menuju Allah, sebagaimana jiwa tertutup oleh tebalnya ciptaan, syahwat, dan kenikmatan sehingga terhalang dari Allah swt.
Hijab yang menghalangi dari Allah itu ada dua macam.
Pertama, hijab yang bersumber dari cahaya, yaitu ilmu dan pengetahuan. Jika hati berhenti padanya, ia akan merasa cukup dengannya dan menjadikannya sebagai tujuan dan maksud.
Kedua, hijab yang bersumber dari kegelapan, yaitu nafsu syahwat dan kebiasaannya. Ia digambarkan dengan ketebalan dan kegelapan karena tidak bisa dihilangkan, kecuali dengan perjuangan dan penderitaan.

(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Al-Hikam 155

“Ada cahaya yang menyingkap jejak-jejak-Nya dan ada cahaya yang menyingkap sifat-sifat-Nya.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Ada cahaya yang menyingkap keadaan makhluk-makhluk sehingga ia menyinari ahwal para hamba dan menyinari yang ada di atas bumi dan di bawah langit. Ini disebut dengan kasyaf shuwari (pengungkapan bentuk). Kasyaf ini tidak dipedulikan oleh para muhaqqiq.
Ada pula cahaya yang menyingkap sifat-sifat Allah swt. dan keindahan-Nya. Cahaya ini tidak akan terlihat, kecuali pada orang-orang yang darinya tampak sifat-sifat Allah. Ini disebut dengan kasyaf maknawi (pengungkapan immaterial). Kasyaf inilah yang dicari oleh para muhaqqiq.
Ibnu Atha’illah tidak mengatakan, “Ada cahaya yang menyingkap dzat-Nya,” karena penampakan dzat Allah yang murni dan bersih dari sifat-sifat masih menjadi perdebatan di kalangan mereka. Sebagian dari mereka menafikannya. Sebagian lagi membenarkan kemungkinannya.
Syekh Muhyiddin menyebut penampakan dzat Allah yang murni ini dengan bawariq (kilat) karena ia datang dan hilang dengan cepat, dan manusia tidak sanggup menerimanya dalam waktu lama.


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Al-Hikam 154

“Cahaya yang tersimpan di dalam qalbu bersumber dari cahaya yang datang dari perbendaharaan gaib.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Cahaya yang tersimpan dalam hati disebut nurul yaqin (cahaya keyakinan), yaitu yang tersimpan dalam hati orang-orang ‘arif. Cahayanya bertambah terang dengan cahaya sifat-sifat azali yang bersumber dari perbendaharaan gaib. Jika Allah menampakkan diri dan sifat-sifat-Nya kepada mereka, cahaya yang masuk ke dalam hati mereka akan bertambah. Itu adalah bukti perhatian Allah kepada mereka.
Dalam Latha’if al-Minan disebutkan, “Ketahuilah bahwa Allah swt., jika mengangkat seorang wali, Dia akan menjaga hatinya dari segala kebendaan dan menjaganya dengan cahaya-cahaya yang terus meneranginya.”


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Al-Hikam 153

“Tempat terbitnya cahaya Ilahi adalah hati dan relung batin.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Tempat terbitnya cahaya maknawi yang berupa bintang-bintang pengetahuan, bulan ilmu, dan matahari tauhid adalah hati dan relung batin. Hati orang ‘arif seumpama langit yang di dalamnya seluruh bintang bersinar.
Cahaya-cahaya maknawi itu lebih terang sinarnya daripada cahaya-cahaya bintang sesungguhnya. Seorang ‘arif berkata, “Jika Allah membukakan tempat-tempat bersinarnya cahaya di hati para wali-Nya, niscaya cahaya matahari dan bulan akan redup oleh pancaran cahaya hati mereka. Cahaya matahari dan bulan tak sebanding dengan cahaya hati karena cahaya keduanya masih bisa dihalangi oleh gerhana, selain juga akan tenggelam di malam atau siang hari. Sementara itu, cahaya hati wali Allah tidak pernah tenggelam atau mengalami gerhana.
Asy-Syadzli berkata, “Jika Allah menyingkap cahaya seorang mukmin yang bermaksiat, cahaya itu menyinari semua yang ada di antara langit dan bumi. Lantas, bagaimana halnya dengan cahaya mukmin yang taat?”
Di antara bukti kelembutan Allah untuk seluruh makhluk adalah, Dia tidak menyingkap cahaya-cahaya kaum ‘arif. Al-Mursi berkata, “Jika Allah membukakan hakikat para wali-Nya, niscaya wali-wali itu akan disembah karena sifat-sifat dan watak-wataknya sama dengan sifat-sifat Allah swt.”


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Al-Hikam 152

“Boleh jadi Allah memberimu manfaat pada saat malam kesempitan yang tidak kaudapatkan pada saat siang kelapangan. ‘Kalian tidak mengetahui mana yang lebih bermanfaat bagi kalian.’(QS.an-Nisa’ [4]: 11)”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Kesempitan diumpamakan dengan malam hari karena pada kedua keadaan tersebut terdapat kesunyian. Manfaat yang dimaksud adalah manfaat ilmu dan pengetahuan. Adapun kelapangan diumpamakan dengan siang hari karena pada kedua kondisi tersebut manusia bertebaran ke seluruh penjuru.
Siapa yang mendapatkan kelapangan maka jiwanya akan bergejolak untuk menampakkan pengetahuan dan hal lain yang dimilikinya. Mungkin ini akan menjadi sebab ia dihijab. Beda halnya dengan orang yang mengalami kesempitan, jiwanya akan lelah dan merasa hina. Ini akan menjadi sebab Allah akan menganugerahinya bermacam kebaikan. Oleh karena itu, orang-orang ‘arif lebih mengutamakan masa sempit daripada masa lapang.
Saat sempit, jiwa tidak memiliki kesenangan dan keuntungan. Ia lebih mampu untuk menunaikan hak-hak Allah dan etika-Nya. Saat sempit, terkadang jiwa juga mengalami ketakutan dan ketidaksabaran dalam melawan kuasa Ilahi. Oleh karena itu, seorang hamba harus sadar dan tahu kadar nikmat Allah kepadanya saat sempit, sebagaimana ia harus mengetahuinya saat lapang. Pada dua kondisi itu, ia harus tetap bersandar kepada Tuhannya dan berbaik sangka kepada-Nya karena ia tidak mengetahui mana yang lebih bermanfaat baginya.
Allah swt. berfirman, “Kalian tidak mengetahui mana yang lebih bermanfaat bagi kalian.” (QS.an-Nisa’ [4]: 11)


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Al-Hikam 151

“Jika kau ingin dibukakan pintu asa, lihatlah karunia-Nya kepadamu. Namun, jika kau ingin dibukakan pintu takut, lihatlah amal yang kau persembahkan untuk-Nya.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Jika kau ingin Allah membukakan pintu harap untukmu, rasakanlah dalam dirimu kehadiran nikmat-Nya kepadamu, baik yang berupa manfaat maupun perlindungan-Nya dari bahaya, sejak kau masih dalam perut ibumu sampai waktu kau hidup sekarang. Jika kau merasakan hal itu, kau akan dihiasi harapan besar dan tak pernah putus asa dari rahmat-Nya walaupun saat kau terjerumus ke lembah dosa.
Jika kau sudah dikuasai rasa harap dan kau takut hal itu akan membuatmu melanggar perintah Allah, kau akan merasa ingin dibukakan pintu takut kepada-Nya agar bisa menjagamu dari yang kautakutkan. Oleh karena itu, sadarilah apa yang sudah kau berikan kepada-Nya, baik berupa kesalahan, pelanggaran, maksiat, maupun kekurangsopananmu di hadapan-Nya. Jika kau merasakan hal itu, kau akan dikuasai rasa takut kepada-Nya sehingga kaupun akan berhenti melanggar perintah-Nya.
Rasa harap dan takut merupakan dua kondisi yang timbul dari dua kesadaran di atas; kesadaran atas nikmat Allah dan kesadaran atas amal perbuatan yang kaupersembahkan kepada-Nya.


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Al-Hikam 150

“Jika kau terjatuh pada dosa, janganlah hal itu membuatmu putus asa untuk beristikamah bersama Tuhanmu karena bisa jadi itulah dosa terakhir yang ditetapkan atasmu.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Jika kau melakukan dosa sesuai dengan maqam dan kedudukanmu, hal itu jangan sampai membuatmu putus asa dari kelurusan dan keseimbangan ahwal-mu dengan Tuhanmu, misalnya dengan meyakini bahwa karena timbulnya dosa itu, kau merasa mustahil untuk beristikamah. Sikap itu akan mendorongmu melakukan dosa lainnya. Ini tentu langkah yang salah karena istikamah dalam ‘ubudiyah tidak mesti terhalang oleh perbuatan dosa yang dilakukan akibat lalai dan alpa jika kau telah ditakdirkan untuk itu.
Yang menghalangi istikamah adalah keinginanmu yang terus-menerus melakukan dosa dan tekad kembali melakukannya lagi. Oleh karena itu, yang wajib bagimu adalah bertobat langsung kepada Tuhanmu dan kembali kepada-Nya, jangan putus asa dari rahmat-Nya. Bisa jadi itu adalah dosa terakhir yang ditetapkan Allah untukmu sehingga setelah itu, Allah akan menerimamu dengan taufik dan kebaikan-Nya.


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Al-Hikam 149

“Apabila kau gembira ketika diberi karunia oleh-Nya dan kecewa saat ditolak-Nya, simpulkanlah bahwa itu adalah bukti dari kekanak-kanakanmu dan ketidaktulusan penghambaanmu.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Itu adalah sikap kekanak-kanakanmu di tengah orang-orang yang dekat dengan Allah. Maksudnya, kau masih belum termasuk golongan mereka. Kau hanya ikut-ikutan dalam perkara yang tak layak kauikuti. Seperti halnya anak-anak yang tidak mempunyai rasa malu mendekati tamu yang belum dikenalnya. Ini juga menjadi bukti ketidaktulusan penghambaanmu kepada-Nya.
Saat seorang merasa sempit karena tidak diberi dan merasa lapang saat diberi, ini pertanda bahwa ia masih memedulikan kepentingan dan maslahatnya. Menurut kaum ‘arif, bekerja untuk mendapatkan kepentingan dan maslahat pribadi bertentangan dengan ‘ubudiyah. Siapa yang mendapati kondisi itu pada dirinya, hendaknya ia mengerti bahwa ‘ubudiyah-nya masih belum tulus. Sepatutnya juga ia sadar bahwa ia sedang bersikap kekanak-kanakan di tengah orang-orang yang dekat dengan Allah. Terlebih lagi bila ia mengaku-ngaku memiliki kedudukan seperti mereka, padahal tidak demikian.
Lain halnya jika kekecewaan saat ditolak Allah itu timbul karena ia takut tidak sabar dan takut melawan kuasa Ilahi, akan terjadilah padanya rasa bosan. Lain halnya jika kebahagiaan saat diberi Allah itu terjadi karena ia tidak lagi mengalami rasa takut untuk tidak bersabar. Ini adalah bukti perhatian dan kasih sayang Allah kepadanya karena ia tidak dijerumuskan-Nya ke dalam perkara yang mengganggu kondisinya. Ini bukanlah sifat kekanak-kanakan dan ketidaktulusan yang disebutkan di atas. Bagaimanapun, orang-orang ‘arif pasti tetap memiliki sisa-sisa sifat kemanusiaan yang ada pada dirinya. Dengan sisa-sisa sifat itu, mereka mampu bergaul dengan manusia dan makhluk lainnya. Ini adalah kebutuhan manusiawi pada dirinya.


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Al-Hikam 148

“Jika kaum zuhud mendapat pujian, hati mereka resah karena mereka melihat pujian tersebut berasal dari makhluk. Ketika kaum ‘arif dipuji, hati mereka senang karena mereka melihatnya berasal dari Allah Yang MahaHaq.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Jika orang-orang zuhud dipuji, mereka akan gelisah karena merasa pujian itu dari makhluk, bukan dari Allah. Mereka gelisah karena takut tertipu oleh pujian itu sehingga kedudukan mereka di sisi Allah akan hilang. Sebaliknya, jika orang-orang ‘arif dipuji, mereka akan senang karena merasa bahwa pujian itu dari Allah Yang Maha Haq.
Mereka selalu hadir bersama Tuhannya dan tidak menyaksikan kecuali dzat-Nya. Jika mereka dipuji, mereka menganggap pujian itu dari Allah, karena itu mereka senang dan bahagia. Itu yang membuat tinggi ahwal dan kedudukannya karena mereka tidak lagi menyadari dirinya sendiri. Dengan demikian, mereka tidak lagi merasa ujub dan tertipu.
Ini sesuai sabda Rasulullah, “Jika seorang mukmin dipuji di hadapannya, keimanan akan bertambah dalam hatinya.”
Oleh sebab itu, Ibnu Atha’illah memuji syekhnya, al-Mursi, dan beliau tetap diam. Pada dirinya, pujan itu menduduki tempat yang agung. Seperti itulah yang dialami kaum ‘arif lainnya. Para pemilik maqam ini, jika dicela dan dihina, mereka tidak akan merasa resah, kecewa, atau sakit hati karena tidak merasa bahwa celaan itu berasal dari orang yang mencelanya.


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Al-Hikam 147

“Jika kau mendapat pujian, sedangkan kau tidak layak atasnya, pujilah Allah sebagai Dzat yang memang layak menyandangnya.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Kau tidak layak mendapat pujian karena pujian mereka sesungguhnya tidak ada padamu. Orang-orang memujimu karena Allah menutup aib dan celamu itu. Sekiranya bukan karena anugerah Allah kepadamu dan tirai-Nya yang menutup aibmu, niscaya kau tidak layak mendapat pujian itu.

Oleh karena itu, etikanya, kau harus memuji Tuhanmu yang memang layak dipuji agar hal itu menjadi kesyukuranmu atas nikmat ditutupnya tirai darimu dan banyaknya lisan yang memuji kendati kau tidak layak mendapatkannya. Oleh sebab itu, jangan tertipu dan terpesona oleh ucapan orang-orang yang memujimu. 


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Al-Hikam 146

“Sebodoh-bodoh manusia adalah orang yang meninggalkan keyakinannya karena mengikuti sangkaan orang-orang.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Orang yang paling bodoh adalah orang yang meninggalkan keyakinan atau pengetahuannya tentang kelemahan dan aib diri serta kekurangan hubungannya dengan Allah karena sangkaan orang-orang bahwa dirinya baik sehingga mereka memujinya. Jika orang yang dipuji itu tertipu dan yakin bahwa dirinya layak mendapat pujian serta terpedaya oleh kesaksian seluruh makhluk tentangnya, ia menjadi manusia terbodoh karena ia mengabaikan keyakinannya dan lebih mengutamakan sangkaan tentangnya. Ia lebih mengutamakan sesuatu yang ada pada orang lain daripada yang ada pada dirinya.
Pujian dusta terhadapmu sama saja dengan ucapan orang-orang yang ingin mengolok-olokmu dengan berkata, “Kotoran yang keluar dari mulutmu baunya seperti minyak kasturi,” dan kau rela, bahkan senang dengan cemoohan itu. Tentu saja aib diri yang diketahui seorang hamba lebih busuk dan lebih kotor daripada kotoran yang keluar dari mulutmu.


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Al-Hikam 145

“Seorang mukmin, jika dipuji, akan malu kepada Allah karena ia dipuji dengan sifat yang tidak ia dapati pada dirinya.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Mukmin sejati adalah mukmin yang tidak mendapati pada dirinya sifat-sifat terpuji sehingga layak untuk dipuji. Dia hanya memandang bahwa sifat itu datang dari Allah. Jika manusia memujinya dan menyebut-nyebut kebaikannya, ia akan malu kepada Allah karena ia tidak mendapati sifat yang dipuji itu ada pada dirinya.
Rasa malunya kepada Allah adalah rasa malu penuh takzim dan pengagungan kepada-Nya dengan sifat-sifat yang tak ada padanya. Dengan begitu, ia akan bertambah benci dan jijik kepada dirinya sendiri, pandangannya terhadap kebaikan dan karunia Allah semakin basar. Inilah kesyukuran yang dengannya ia akan mendapatkan yang lebih dan selamat dari sikap nyaman dengan pujian para hamba.


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Al-Hikam 144

“Orang-orang memujimu atas apa yang mereka sangka ada pada dirimu. Karena itu, celalah dirimu atas apa yang kau ketahui ada pada dirimu.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Manusia memujimu atas sifat-sifat terpuji yang ada padamu. Oleh karena itu, jangan kau tertipu dan terpesona oleh pujian mereka kepadamu,  tetapi celalah dirimu sendiri. Celalah dirimu karena apa yang tidak sesuai dengan sangkaan manusia kepadamu.
Oleh sebab itu, Ali ra. sering berdo’a, “Ya Allah, jadikan kami lebih baik daripada apa yang mereka kira dan jangan tuntut kami dengan apa yang mereka katakana tentang kami. Ampuni dosa kami atas apa yang tidak mereka ketahui.”
Ucapan Ibnu Atha’illah “Celalah dirimu!” bukan berarti bahwa kau disuruh untuk mendustakan perkataan manusia atau mencoba mengubah sangkaan mereka terhadapmu. Akan tetapi, maksudnya, kau tidak boleh tertipu atau terpesona dan tidak mengutamakan pengetahuanmu atas sangkaan mereka.
Jika seorang pemuji berbohong, misalnya dengan terlalu berlebihan dalam memuji, dan kebohongannya telah diketahui, laksanakanlah sabda Rasulullah, “Lemparkan debu di wajah para pemuji.” Pujian seperti itu dilarang.
Demikian pula jika pujian dapat mendorong orang yang dipuji tertipu dan membuatnya melakukan kesalahan terhadap dirinya sendiri maka laksanakanlah perintah Rasulullah, “Jauhilah pujian karena ia sama dengan tindakan menyembelih seseorang.”


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Al-Hikam 143

“Alam ini ada dengan penetapan Allah dan ia lenyap dengan keesaan dzat-Nya.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Pada mulanya, alam semesta ini tidak ada. Alam semesta memiliki sifat wujud dengan penetapan Allah swt. terhadapnya atau dengan penampakan-Nya di dalamnya. Ketetapan alam ini bersifat relatif karena tak ada yang mutlak, kecuali Dia. Oleh karena itu, Ibnu Atha’illah berkata, “Alam lenyap dengan keesaan dzat-Nya.”
Siapa yang melihat kepada keesaan dzat-Nya maka ia tidak akan mendapati alam ini tetap dan berwujud. Alam memiliki sifat tetap dengan memandang kepada keesaan-Nya. Menurut orang-orang ‘arif, keesaan maknanya adalah kemurnian, kemutlakan, dan keterbebasan dari penampakan pada alam semesta. Keesaan dalam arti itu berbeda dengan ke-satu-an karena kesatuan ialah penampakan dzat yang lahir di alam semesta sehingga alam semesta menjadi ada berdasarkan adanya Yang Maha Haq di sana. Oleh sebab itu, mereka berkata, “keesaan umpama lautan tanpa gelombang, sedangkan kesatuan umpama lautan dengan gelombang.”
Bagi mereka, Allah swt. seumpama lautan dan alam semesta ini seperti gelombang yang digerakkan oleh lautan itu. Gelombang tentu berbeda dengan lautan. Inilah tauhid orang-orang ‘arif.
Di dalam kitab ini, Ibnu Atha’illah mengulang-ulang ungkapannya tentang hal ini. Ia mengatakannya dengan berbagai ungkapan yang berbeda untuk mewujudkan yang benar dan menyingkirkan yang batil dari dirimu. Sebagian orang membahasnya secara khusus dalam satu karya tersendiri atau membahasnya dalam pembahasan tentang wihdatul wujud (kesatuan wujud).


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Al-Hikam 142

“Allah membolehkan dirimu melihat apa yang terdapat di alam, namun tidak mengizinkan dirimu berhenti padanya. Karena itu, Dia berkata, “Katakan, perhatikan apa yang terdapat di langit!” bukan berkata, “Perhatikan langit!” Agar perhatianmu tidak tertuju ke benda langit.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Allah memerintahkanmu melihat alam semesta sebagai bukti keindahan-Nya atau menyapukan pandangan hatimu ke sana agar kau menyaksikan bahwa Dia ada di alam semesta dan tampak di sana. Allah melarangmu untuk menghijab dirimu dengan alam sehingga kau tidak bisa melihat-Nya di sana. Allah swt. berfirman, “Katakan, perhatikan apa yang terdapat di langit!”
Dalam Latha’if al-Minan disebutkan, “Alam semesta yang ditampakkan di hadapanmu bukan untuk kaulihat, tetapi agar kaulihat wujud Tuhan di dalamnya. Kehendak Tuhanmu adalah agar kau melihat alam semesta dengan mata orang yang tidak melihatnya. Kau melihatnya dari sisi penampakan Allah di dalamnya, bukan melihatnya dari sisi wujud alam semesta itu sendiri.”
Allah membukakan pintu pemahaman atau mengingatkan dan menyadarkanmu atas apa yang dituntut darimu, yaitu melihat yang ada di alam semesta.
Allah tidak mengatakan kepadamu “Lihatlah langit-langit!” agar tidak menunjukkan kepadamu benda-benda langit saja sehingga dengannya kau menjadi terhijab dan tidak menyaksikan wujud Allah di dalamnya. Hal itu juga dimaksudkan agar alam semesta tidak menjadi fokus dan tujuanmu karena ia hanyalah wasilah (perantara) dan media. Ia hanyalah benda yang dapat dilihat. Bagi para ahli syuhud, alam semesta adalah wahana penampakan Allah swt. Namun, bagi para ahli hijab, alam adalah bukti keberadaan-Nya


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Al-Hikam 141

“Allah menampakkan segala sesuatu karena Dia Maha Tersembunyi. Dia menutupi keberadaan segala sesuatu karena Dia Mahatampak.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Allah memiliki nama baik “al-Bathin” (Yang Maha Tersembunyi). Tak satupun yang dapat menandingi-Nya dalam hal ketersembunyian. Oleh sebab itu, Dia menampakkan segala sesuatu dan membuatnya lahir. Di dalamnya tidak ada lagi yang tersembunyi kecuali dzat-Nya.
Allah juga memiliki nama baik “az-Zhahir” (Yang Mahatampak). Tak satupun yang menyamai-Nya dalam hal kelahiran. Oleh sebab itu, Dia menutupi wujud segala sesuatu atau tidak membuat selain-Nya berwujud dengan sendirinya. Bahkan, seluruh alam semesta ini tidak berwujud, kecuali karena wujud-Nya.
Lahir bermakna tersembunyinya segala sesuatu selain-Nya sehingga tak satupun yang menandingi penampakan-Nya. Saat itu, wujud segala sesuatu akan tertutup dan lenyap.
Batin bermakna tampaknya segala sesuatu sehingga tak satupun yang menandingi ketersembunyian-Nya. Saat itu, wujud segala sesuatu akan tampak dengan wujud-Nya.
Intinya, Allah Yang Maha Haq adalah Dzat Yang Maha Maujud dan tak ada wujud selain-Nya, kecuali secara dependen (mengikuti wujud-Nya).


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Al-Hikam 140

“Andaikan Allah tidak tampak di alam, tidak aka nada pandangan yang tertuju pada-Nya. Andaikan sifat-sifat-Nya terlihat, pasti alam menjadi lenyap.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Sekiranya bukan karena penampakan Allah di alam wujud, tidak aka nada pandangan yang tertuju pada-Nya. Jika tidak ada, tentu pandangan itu tidak akan pernah melihat wujud-Nya.
Wujud alam semesta tak lain hanya pinjaman Allah semata. Penampakan Yang Maha Haq di dalamnya seumpama pantulan matahari di dalam lentera kaca karena pada hakikatnya, alam semesta ini tidak ada dan tidak berwujud, sebagaimana telah dijelaskan.
Penampakan Allah kepada kita dari balik hijab alam semesta itulah yang membuat alam semesta berwujud dan semua pandangan tertuju padanya. Tanpa ada penampakan Allah di alam semesta ini, niscaya semua alam lenyap dan musnah, serta tak satupun pandangan yang melihatnya.
Allah swt. berfirman, “Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan.” (QS. al-A’raf[7]: 143)
Ayat ini menyatakan bahwa sekiranya sifat-sifat-Nya terlihat, seluruh alam semesta akan luluh lantah, bahkan tak aka nada wujud di sana dan tak ada yang melihatnya. Sebagaimana dalam hadis, “Hijab-Nya adalah cahaya.” Dalam riwayat lain, “Hijab-Nya adalah api.” Sekiranya hijab itu terbuka, Allah akan membakar semua yang ada.


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Al-Hikam 139

“Bukan keberadaan benda yang menghijab dirimu dari Allah. Akan tetapi, yang menghijabmu dari-Nya adalah sangkaan adanya wujud selain Allah.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Bukanlah perkara-perkara duniawi dan ukhrawi yang menghijabmu dari Allah karena tak ada wujud pada sesuatu selain wujud-Nya. Akan tetapi, yang menghijabmu dari-Nya adalah anggapanmu bahwa sesuatu selain-Nya memiliki wujud, padahal menurut orang-orang ‘arif, aslinya sesuatu itu tidak berwujud. Wujud segala sesuatu laksana bayangan pepohonan di atas air. Ia tidak dapat menghalangi perjalanan perahu di air tersebut. Dengan demikian, tak ada hijab antara dirimu dengan Allah, kecuali sangkaanmu bahwa ada wujud lain selain Allah.
Seperti seorang lelaki yang ingin buang air kecil didekat sebuah gua, ketika ia mendengar suara deru angin dari mulut gua itu, ia menyangkanya suara auman singa. Hal itu menghalanginya untuk buang air. Namun, ketika ia tidak mendapati seekor pun singa di sana, akhirnya ia memberanikan diri untuk menunaikan hajatnya. Tentu saja singa bukan sesuatu yang menghalanginya buang air, melainkan sangkaannya tentang wujud singa di sana.


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Al-Hikam 138

“Andaikan cahaya keyakinan menerangi dirimu, tentu kau akan melihat akhirat lebih dekat denganmu daripada kau berjalan menujunya, dan tentu kau akan menyaksikan keindahan dunia telah diliputi selubung kebinasaan.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Sekiranya hatimu diterangi cahaya keyakinan atau ilmu pengetahuan tentang Allah dan janji-Nya yang disampaikan melalui lisan nabi-Nya, niscaya kau akan melihat akhirat lebih dekat denganmu saat kau berjalan menuju-Nya. Kau juga akan melihat keindahan dunia telah diliputi oleh selubung kebinansaan. Karena dengan cahaya keyakinan dan ilmu itu, hakikat segala sesuatu akan terlihat sesuai kondisi aslinya.
Jika cahaya itu menyinari hati, seorang hamba akan melihat yang benar tetap benar dan yang batil tetap batil; akhirat adalah benar, sedangkan dunia adalah batil. Dia akan melihat akhirat yang tadinya gaib seakan hadir di hadapannya, seakan akhirat itu tidak sirna dari hadapannya dan amat dekat kepadanya untuk ia tuju.
Dengan begitu, ia akan lebih siap lagi untuk menyongsongnya. Ia melihat dunia yang hadir di matanya telah redup cahayanya, segera musnah dan sirna dari pandangannya. Di matanya, tampaklah kebatilan dunia itu sehingga seakan ia tidak ada. Dengan pandangan penuh keyakinan ini, ia terdorong untuk berzuhud meninggalkan dunia dan perhiasannya, serta lebih mengutamakan akhirat dan bersiap menyongsongnya.
Keadaan ini menandakan kelapangan dada seorang hamba dengan cahaya tersebut. Sebagaimana sabda Rasulullah, “Sesungguhnya cahaya jika masuk ke dalam hati, dada akan lapang dan terbuka karenanya.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah hal itu ada tanda-tandanya?” Beliau menjawab, “Ya, tandanya adalah sikap menjauhi tempat tipu daya, berlindung ke negeri keabadian, dan bersiap menghadapi kematian sebelum datang.”
Saat cahaya masuk ke dalam qalbu seorang hamba, syahwatnya akan mati dan doronan jiwanya akan sirna sehingga ia hanya terdorong untuk melakukan kebaikan dan tidak pernah tertarik untuk melanggar. Hamba yang mendapatkan cahaya tidak memiliki tekad, kecuali untuk segera melakukan kebaikan dan menggunakan waktu dan kesempatan karena saat itu ia merasa ajal sudah dekat, sedangkan kebaikan banyak terlewatkan.


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Al-Hikam 137

“Sahabat sejatimu adalah yang bersahabat denganmu dalam kondisi ia mengetahui aibmu. Tidak lain Ia adalah Tuhanmu Yang Maha Pemurah. Sebaik-baik sahabatmu adalah yang tidak mengharap keuntungan darimu.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Tiada yang menjadi sahabatmu dengan sebenar-benarnya, kecuali Dzat yang memberimu kebaikan-Nya. Dia mengetahui aib dan celamu, namun Dia tidak pernah terhalang untuk mendekatimu dan menjadi sahabatmu, padahal Ia mengetahui rincian kekurangan dan aibmu itu. Teman seperti itu ialah Tuhanmu Yang Mahamulia. Seperti itu pulalah persahabatan kaum sufi dan orang-orang ‘arif yang memiliki akhlak seperti sifat-sifat Tuhannya.
Adapun orang-orang yang menemanimu dengan kebodohannya, ia bukanlah sahabat sejati karena ia tak kuasa melihat kekurangan dan aibmu. Ia takkan mampu bersabar menanggungnya. Meskipun bersabar, pasti ada tendensi dan tujuan yang diinginkannya.
Sebaik-baik sahabatmu adalah orang yang tidak menuntut apa-apa darimu. Itu hanyalah Tuhanmu atau orang yang berakhlak seperti akhlak-Nya. Adapun orang yang bersahabat karena kebaikanmu dan manfaat yang kau berikan kepadanya, ia bukanlah sahabat sejati karena tujuannya hanyalah menunaikan kebutuhannya darimu. Jika tujuan itu telah terlaksana, ia akan meninggalkanmu.


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Al-Hikam 136

“Orang yang menghormatimu sebenarnya menghormati indahnya tutup Allah yang diberikan kepadamu. Oleh karena itu, pujian hanya layak diberikan kepada Dzat Yang Menutupi (aibmu); bukan kepada orang yang menaruh hormat dan berterima kasih kepadamu.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Orang yag mendekati dan mencintaimu atau berterima kasih kepadamu tak lain dikarenakan keindahan tirai Allah yang diberikan kepadamu. Tanpa tirai itu, mereka tidak akan datang kepadamu, tidak mencintaimu, dan tidak pula melihat kepadamu dengan keramahan. Hal itu dikarenakan jika mereka mengetahui apa yang ada padamu, niscaya mereka akan merendahkanmu dan menganggap dirimu buruk, bahkan mereka akan menghindar darimu.
Saat itulah segala puji hanya layak diberikan kepada Dzat Yang Menutupi aibmu, bukan kepada orang yang menghormati dan berterima kasih kepadamu. Jangan kau berterima kasih kepada orang itu, kecuali atas kebaikan yang diberikannya, bukan karena ia orang yang menghormatimu dengan sebenar-benarnya karena tak ada yang memuliakanmu dengan sebenarnya, kecuali Allah semata.
Orang yang didatangi, dicintai, dan dimuliakan oleh manusia kadang melakukan kesalahan sehingga pujian dan sanjungan kepadanya tidak tepat. Manusia yang memujinya sama saja dengan zalim. Ia juga kadang salah dengan melihat pada dirinya sifat-sifat terpuji yang layak mendapat kemuliaan. Maka dari itu, mereka yang memujinya termasuk orang yang bodoh. Mereka bodoh karena hanya melihat kepada amalnya dan lupa kepada karunia Allah atasnya. Oleh karena itu, Ibnu Atha’illah mengingatkan dari dua kesalahan ini.


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Al-Hikam 135

“Tutup (perlindungan) Allah ada dua; tutup yang menghalangi perbuatan maksiat dan tutup ketika melakukan maksiat. Manusia pada umumnya berharap supaya ditutupi dalam melakukan maksiat karena khawatir derajat mereka jatuh di mata makhluk. Adapun kalangan khusus berharap ditutup (dicegah) dari perbuatan maksiat karena khawatir kedudukan mereka jatuh dalam pandangan Allah.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Tirai Allah ada dua macam. Pertama, tirai yang menghalangi seorang hamba dari kemaksiatan, misalnya dengan tidak memberinya sebab-sebab untuk melakukan maksiat. Kedua, tirai penutup saat hamba melakukan maksiat, misalnya dengan menutupi aibnya di hadapan semua orang saat ia melakukan maksiat atau sesudahnya.
Manusia awam yang tidak memiliki hakikat keimanan selalu didominasi oleh pandangan makhluk. Mereka selalu berharap dari makhluk berbagai manfaat dan keselamatan dari bahaya, karena itu mereka bersikap riya’ dan berpura-pura di hadapan semua makhluk. Mereka selalu tamak dan sombong di hadapan manusia. Mereka juga tidak suka jika manusia mengetahui hal-hal buruk yang ada pada diri mereka yang dapat menjatuhkan kedudukan mereka.
Oleh sebab itu, manusia cenderung meminta agar Allah menutupi aib mereka saat melakukan maksiat atau bahkan saat menyukainya. Hal itu dikarenakan, mereka takut martabatnya jatuh di mata makhluk. Jika makhluk mengetahui kondisi mereka, tentu mereka tidak akan mendapatkan apa yang mereka harapkan, yaitu manfaat dan keselamatan dari bahaya. Mereka itulah orang-orang yang bersandar kepada selain Allah. Mereka adalah syirik tersamar yang dapat mengeluarkan pemiliknya dari hakikat keimanan. Tentang mereka, Allah swt. berfirman, “Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka.” (QS. an-Nisa [4]: 108)
Adapun orang-orang khusus yang mendapatkan hakikat keimanan, mereka tidak pernah menoleh kepada makhluk, tidak memuji, tidak pula mencela. Mereka juga tidak berharap dari makhluk manfaat atau takut terhadap bahaya mereka. Mereka tidak pernah bersandar kepada makhluk karena mereka hanya puas dengan pandangan Allah kepada diri mereka.
Orang-orang khusus ini meminta agar Allah menutupi aib mereka dari pandangan manusian dan menjaga bisikan hati mereka untuk tidak melakukan maksiat. Hal itu dikarenakan mereka takut kedudukannya jatuh di mata Allah akibat pelanggaran dan perbuatan mereka yang memicu murka-Nya.
Inilah yang sering terjadi pada dua kelompok manusia tersebut. Tentu ada perbedaan yang besar di antara keduanya. Terkadang orang-orang awam meminta agar Allah menutupi aibnya. Ini dilakukannya karena ingin melaksanakan perintah Allah dn rasul-Nya untuk menutupi aib orang yang diuji dengan maksiat. Pada diri mereka tak ada rasa penghinaan terhadap maksiat, tidak pula rasa cinta kepadanya. Sesekali orang khusus juga meminta agar Allah menutupi maksiat yang mereka lakukan, tidak membongkarnya di tengah makhluk, tidak pula di hadapan Allah karena mereka malu telah jatuh ke jurang maksiat. Juga karena manusia sering berburuk sangka kepada orang-orang yang dekat dengan Allah jika mereka mengetahui keburukannya.


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Senin, 14 September 2015

Al-Hikam 134

“Ketika taat, kau lebih membutuhkan belas kasih-Nya daripada ketika melakukan maksiat.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Seorang yang taat biasa mengalami berbagai keadaan, seperti sombong, ‘ujub, meremehkan orang lain, menganggap dirinya layak mendapat pahala, dan kondisi lainnya yang mencerminkan kesombongan. Lain halnya dengan seorang pemaksiat, boleh jadi maksiatnya akan mendorongnya untuk berhati-hati, takut kepada Tuhannya, berlindung kepada-Nya, tunduk dan membutuhkan-Nya.
Oleh sebab itu, seorang hamba lebih membutuhkan belas kasih Allah saat ia taat, melebihi kebutuhannya terhadap belas kasih-Nya saat ia bermaksiat. Hikmah ini merupakan peringatan tambahan bagi orang yang merasa mampu sampai kepada Allah dengan amalan-amalannya. Sikap ini adalah kesalahan dan kebodohan.


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)