Senin, 28 September 2015

Al-Hikam 138

“Andaikan cahaya keyakinan menerangi dirimu, tentu kau akan melihat akhirat lebih dekat denganmu daripada kau berjalan menujunya, dan tentu kau akan menyaksikan keindahan dunia telah diliputi selubung kebinasaan.”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

Sekiranya hatimu diterangi cahaya keyakinan atau ilmu pengetahuan tentang Allah dan janji-Nya yang disampaikan melalui lisan nabi-Nya, niscaya kau akan melihat akhirat lebih dekat denganmu saat kau berjalan menuju-Nya. Kau juga akan melihat keindahan dunia telah diliputi oleh selubung kebinansaan. Karena dengan cahaya keyakinan dan ilmu itu, hakikat segala sesuatu akan terlihat sesuai kondisi aslinya.
Jika cahaya itu menyinari hati, seorang hamba akan melihat yang benar tetap benar dan yang batil tetap batil; akhirat adalah benar, sedangkan dunia adalah batil. Dia akan melihat akhirat yang tadinya gaib seakan hadir di hadapannya, seakan akhirat itu tidak sirna dari hadapannya dan amat dekat kepadanya untuk ia tuju.
Dengan begitu, ia akan lebih siap lagi untuk menyongsongnya. Ia melihat dunia yang hadir di matanya telah redup cahayanya, segera musnah dan sirna dari pandangannya. Di matanya, tampaklah kebatilan dunia itu sehingga seakan ia tidak ada. Dengan pandangan penuh keyakinan ini, ia terdorong untuk berzuhud meninggalkan dunia dan perhiasannya, serta lebih mengutamakan akhirat dan bersiap menyongsongnya.
Keadaan ini menandakan kelapangan dada seorang hamba dengan cahaya tersebut. Sebagaimana sabda Rasulullah, “Sesungguhnya cahaya jika masuk ke dalam hati, dada akan lapang dan terbuka karenanya.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah hal itu ada tanda-tandanya?” Beliau menjawab, “Ya, tandanya adalah sikap menjauhi tempat tipu daya, berlindung ke negeri keabadian, dan bersiap menghadapi kematian sebelum datang.”
Saat cahaya masuk ke dalam qalbu seorang hamba, syahwatnya akan mati dan doronan jiwanya akan sirna sehingga ia hanya terdorong untuk melakukan kebaikan dan tidak pernah tertarik untuk melanggar. Hamba yang mendapatkan cahaya tidak memiliki tekad, kecuali untuk segera melakukan kebaikan dan menggunakan waktu dan kesempatan karena saat itu ia merasa ajal sudah dekat, sedangkan kebaikan banyak terlewatkan.


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

1 komentar:

  1. Bismillahirrohmaanirrohiim mohon share jzkk Moga diterima sebagai amal soleh In Syaa Allah Aamiin Allahumma Aamiin

    BalasHapus