Senin, 23 Maret 2015

Al-Hikam 37

“ ’Sinar mata hati’ membuatmu menyaksikan kedekatan-Nya denganmu. ‘Penglihatan mata hati’ membuatmu menyaksikan ketiadaanmu karena keberadaan-Nya. ‘Hakikat mata hati’ membuatmu menyaksikan keberadaan-Nya, bukan ketiadaanmu dan bukan pula keberadaanmu”
--Ibnu Atha’illah al-Iskandari--

            Sinar mata hati sering disebut dengan cahaya akal dan ‘ilmu yaqin. Penglihatan mata hati sering disebut dengan cahaya ilmu dan ‘ainul yaqin. Hakikat mata hati sering disebut dengan cahaya kebenaran dan haqqul yaqin.
            Cahaya-cahaya ilahi tersebut akan menyinari hati seorang salik. Setiap cahaya tersebut memiliki buah dan manfaatnya sendiri-sendiri.
            Seseorang berkata, “seorang hamba tidak akan sampai pada hakikat tawadhu’, kecuali saat terpancarnya cahaya musyahadah dari hatinya.” Saat itu, nafsunya akan larut dan tunduk pada Sang Khalik dan bersikap rendah hati dihadapan makhluk.
            Melalui hikmah ini, Ibnu Atha’illah menjelaskan bahwa orang yang terbuka dengan cahaya yang pertama akan merasa kedekatan Allah. Ia akan selalu sadar pengawasan Allah dan malu kepada-Nya. Ia merasa bahwa pandangan Allah tidak pernah luput darinya, baik itu saat ia melaksanakan perintah-Nya maupun saat menjauhi larangan-Nya.
            Orang yang terbuka dengan cahaya kedua akan merasa ketiadaan segala wujud karena wujud Tuhan Yang Maha Haq. Ia akan melihat bahwa alam semesta ini tidak ada dan tidak memedulikannya lagi karena wujud alam semesta ini hanyalah akibat wujud Yang Maha Haq. Wujud hakiki hanyalah milik Allah swt. Dalam pandangannya, tak ada lagi yang dijadikan sandaran atau tempat berkeluh kesah, kecuali Allah. Ia hanya akan bertawakkal kepada-Nya, rida, dan memasrahkan diri kepada-Nya.
            Sementara itu, orang yang terbuka dengan cahaya ketiga akan memiliki dzat dan jiwa yang suci. Ia akan merasa kefanaan secara total. Kefanaan yang abadi karena luluh dengan wujud Tuhannya. Rahasia-rahasia Ilahi pun terkuak di hadapannya. Jika ia naik dari kefanaan total itu, ia akan menempati maqam keabadian.
            Penulis al’-Awarif berkata, “Orang yang abadi di satu maqam tidak akan dihalangi Allah dari makhluk dan tidak akan dihalangi makhluk dari Alah, sedangkan orang yang fana akan terhalangi oleh Yang Maha Haq dari makhluk.


(Ulasan oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar